Ga terasa gw udah semester 7 di kampus tercinta, dan alhamdulillah nilai pun ga jelek jelek amat walopun semester 6 harus terima kanyataan kalau gw harus dapet nilai C lagi di salah satu mata kuliah yang dosennya paling demen banget ngeramal ngeramal gw dan temen-temen gw dikelas setelah disemester 2, 3, 4 dan 5 gw udah ga pernah dapet nilai C lagi, ya paling mentok dapet nilai B.
Di pertemuan pertama sama dosen-dosen mata kuliah , tiiiiaaaap hari pembukaannya adalah membahas proposal skripsi, sedikit ada yang menakut nakuti tapi ada juga yang memotivasi mahasiswa kelas gw untuk fight hadepin ujian ini. Semalam dosen gw Bu Iin ngadain pengarahan proposal skripsi , bahas detail terkait skripsi dari 0 sampe wisudanya. Anak - anak wajib ngumpulin proposal skripsi paling lambat 30 November 2014, ini hal horror buat gw karena gw pribadi belum dapet wangsit sama sekali terkait judul skripsi yang bakal gw pake, dimana gw harus riset, berapa uang yang harus dikeluarin bla bla bla bla...
Sepanjang jalan gas gw pulang, gw kepikiran banget , gw bingung harus mulai dari mana,judul pajak apa yang bakal gw pake, gimana memanage waktunya antara kerja dengan buat proposal, gimana nanti kalo proposalnya di tolak ( Nauzubillah jangan sampe ), gimana kalo pas sidang gw demam panggung :p , shock tiba tiba, tiba tiba mules atau kebelet pipis
Sempat kepikiran gw mau mundur aja, tapi gw mikir lagi , yang dirumah pengen bangeeeeeeettt gw di wisuda, pengen bangeeett punya anak Sarjana Ekonomi, katanya papa kalo gw diwisuda kebahagiaan papa berasa seperti diberangkatin haji sama anak, Ya Allah, segitu besarnya mereka.Yup berarti gw harus perjuangin itu semuanya demi masa depan gw, kebahagiaan papa mama dengan target lulus di September 2015, dengan begitu kalau Allah menghendaki , dengan gelar dan ilmu yang gw dapet selama bertapa di kampus gw bisa jadi lebih baik, bisa mensejahterakan perekonomian keluarga gw dan bisa berangkatin mama papa haji, Aamiin Allahumma Aamiin..
Ya Allah, Mudahkanlah Proses ini .. Aamiin
Jumat, 24 Oktober 2014
Minggu, 14 September 2014
I LOVE YOU SO - MAHER ZAIN
Sekilas.. pas gw lagi nunggu bokap jemput daerah ciputat, ada salah satu departement store yang eksis banget putar lagu lagu religi , dari lagunya opick, haddad alwi, qosidahan tahu 90-an :p , sampai Maher Zain. Yoiii Maher Zain cuy, seorang musisi luar negeri yang paling gw suka, padahal banyak penyanyi/musisi yang suaranya keren, lagunya enak pokonya amazing gitu deh, tapi gw malah kecantol sama musisi ganteng yang satu ini, lagunya itu loh.. lain banget daripada yang lain, dia tuh penyanyi religi yang konsepnya modern,
Ada 1 lagunya dia yang bikin gw cukup merinding dari sekian banyak lagunya yang gw punya, itu lagu di putar terus terusan .. mungkin gw punya punya tuh lagu di hp gw, tapi semenjak gw ikut odoj gw jadi jarang banget dengerin mp3, gw coba dengerin dengan seksama gw ikutin alur liriknya dan WOW.. gw jatuh cinta sama lagu itu , tanpa pikir panjang gw coba searching itu lagu di google dengan menyisipkan salah satu kalimat yang ada diliriknya, dan alhasil Horeeeeeeeeeeeee ketemu juga akhirnya, ternyata judulnya I Love You So, gw langsung cari di playlist dan ternyata adaaa.. yes yes yes..
Tau gak kenapa gw suka banget sama ini lagu.. Cek liriknya ni
"I Love You So"
I pray to God
My heart, soul, and body
Every single day of my life
With every breath I solemnly promise
To try to live my life for you
O Allah, You did revive my soul
And shone Your light into my heart
So pleasing You is now my only goal
Oh I love You so
I love You so (I love You so)
[Chorus:]
Now I know how it’s like
To have a precious love in my life
Now I know how it feels
To finally be at peace inside
I wish that everybody knew
How amazing it feels to love You
I wish that everyone could see
How Your love has set me free
Set me free and made me strong
O Allah, I’m forever grateful to You
Whatever I say could never be enough
You gave me strength to overcome my uncertainties
And stand firm against all the odds
You are the one who did revive my soul
You shone Your light into my heart
So pleasing You is now my only goal
Oh I love You so
I love You so (I love You so)
[Chorus]
My love, my life, my days, my nights, my wealth, my prayers – all for You [x2]
And I swear that I will never put anyone or anything before You
My love, my life, my days, my nights, my wealth, my prayers – all for You
My heart, soul, and body
Every single day of my life
With every breath I solemnly promise
To try to live my life for you
O Allah, You did revive my soul
And shone Your light into my heart
So pleasing You is now my only goal
Oh I love You so
I love You so (I love You so)
[Chorus:]
Now I know how it’s like
To have a precious love in my life
Now I know how it feels
To finally be at peace inside
I wish that everybody knew
How amazing it feels to love You
I wish that everyone could see
How Your love has set me free
Set me free and made me strong
O Allah, I’m forever grateful to You
Whatever I say could never be enough
You gave me strength to overcome my uncertainties
And stand firm against all the odds
You are the one who did revive my soul
You shone Your light into my heart
So pleasing You is now my only goal
Oh I love You so
I love You so (I love You so)
[Chorus]
My love, my life, my days, my nights, my wealth, my prayers – all for You [x2]
And I swear that I will never put anyone or anything before You
My love, my life, my days, my nights, my wealth, my prayers – all for You
Yang bikin gw suka banget sama lagu ini ya semata mata karena makna lagu ini lah , garis besar lagu ini berisi puji pujian , rasa syukur , dan janji kepada Allah <3 . pujian2 kepada allah yang disaji dalam bentuk lirik yang sangat simple, enteng tapi jLeb, indah , mudah dicerna tentunya menyentuh buat gw. Gw bersyukur banget di tengah maraknya industri musik yang berkembang masih ada satu musisi yang menyisipkan lirik2 indah seperti ini , mungkin dengan maksud supaya kita bisa lebih mendekatkan diri kepada Sang Khalik Allah SWT.
Musisi yang kreatif n religius , Salut :)
Senin, 16 Juni 2014
REPOST :Sejak Kapankah Anak-Anak Mulai Ditutup Auratnya?
Soal:
Apa saja aurat anak kecil laki-laki dan perempuan? Dan kapan hendaknya mereka mulai menutup aurat? Dan kapan mulai dipisah tempat tidurnya antara anak laki-laki dan perempuan yang biasanya tidur seranjang tanpa selimut? Dan apakah itu berlaku untuk anak yang masih mahram saja atau yang bukan mahram, baik anak kecil maupun anak yang sudah dewasa? Saya sudah mencari pendapat-pendapat para ulama dalam masalah ini dan di sana ada khilaf yang sangat panjang pembahasannya. Maka saya minta penjelasan pendapat yang rajih dalam masalah ini yang tidak diragukan lagi bahwa itu kebenaran. Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan.
Apa saja aurat anak kecil laki-laki dan perempuan? Dan kapan hendaknya mereka mulai menutup aurat? Dan kapan mulai dipisah tempat tidurnya antara anak laki-laki dan perempuan yang biasanya tidur seranjang tanpa selimut? Dan apakah itu berlaku untuk anak yang masih mahram saja atau yang bukan mahram, baik anak kecil maupun anak yang sudah dewasa? Saya sudah mencari pendapat-pendapat para ulama dalam masalah ini dan di sana ada khilaf yang sangat panjang pembahasannya. Maka saya minta penjelasan pendapat yang rajih dalam masalah ini yang tidak diragukan lagi bahwa itu kebenaran. Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan.
Jawab:
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد:
Batasan aurat anak kecil laki-laki dan perempuan tidak disebutkan dalam dalil-dalil Al Qur’an dan Sunnah secara tegas. Namun pembahasan hal ini dilandasi firman Allah Ta’ala:
أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ
“atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita” (QS. An Nuur: 31)
dan hadits,
مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع.
“perintahkan anak-anak kalian untuk shalat ketika berusia 7 tahun”
Atas dasar ini, maka nampaknya yang paling mendekati kebenaran adalah pendapat Madzhab Hambali mengenai batasan aurat anak kecil, dan rinciannya sebagaimana dipaparkan dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah,
لا عورة للصغير الذي لم يبلغ سبع سنين فيباح النظر إليه ومس جميع بدنه، وابن سبع إلى عشر عورته الفرجان فقط، في الصلاة وخارجها، وبنت سبع إلى عشر عورتها في الصلاة ما بين السرة والركبة ويستحب لها الاستتار وستر الرأس كالبالغة احتياطا، وأمام الأجانب عورتها جميع بدنها إلا الوجه والرقبة والرأس واليدين إلى المرفقين والساق والقدم وبنت عشر كالكبيرة تماما. انتهى.
“Tidak ada aurat bagi anak kecil yang belum berusia 7 tahun, maka boleh dilihat dan dipegang seluruh bagian badannya. Dan anak kecil laki-laki usia 7 sampai 10 tahun, auratnya adalah kemaluannya saja. Baik dalam shalat maupun di luar shalat. Adapun anak kecil perempuan usia 7 sampai 10 tahun auratnya dalam shalat adalah antara pusar hingga lutut. Dan dianjurkan baginya untuk menutup seluruh aurat dan memakai jilbab sebagaimana wanita baligh, dalam rangkaihthiyath (berhati-hati). Adapun auratnya (anak kecil wanita 7-10 tahun) di depan lelaki ajnabi (yang bukan mahramnya) adalah seluruh badannya, termasuk kepala, leher, kedua tangan hingga siku, betis, dan kaki. Dan anak perempuan usia 10 tahun auratnya sama sebagaimana wanita dewasa” [selesai]
Dan kami tidak paham maksudnya perkataan anda “tidur seranjang tanpa selimut”. Jika maksudnya mereka tidur di kasur yang sama dengan keadaan auratnya terbuka, maka penjelasan tentang aurat sudah kami paparkan barusan. Adapun soal tidur, maka hukum tidurnya anak kecil dengan sesama anak kecil hukumnya boleh sampai ia berusia 10 tahun. Lalu setelah 10 tahun wajib di pisah berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:
وفرقوا بينهم في المضاجع. رواه أحمد وأبو داود.
“dan pisahkan mereka di tempat-tempat tidur mereka” (HR. Ahmad, Abu Daud)
Al Munawi dalam Syarah Al Jami’ Ash Shaghir berkata: “maksudnya, pisahkan anak-anakmu di tempat-tempat tidur mereka, tempat dimana mereka tidur, jika mereka sudah berusia 10 tahun. Dalam rangka menjauhkan dari penyimpangan syahwat walaupun mereka bersaudara”. Lihat juga fatwa nomor 23210.
Adapun tidurnya orang dewasa dengan anak kecil maka ini hukumnya berbeda-beda tergantung keadaannya. Apakah yang tidur itu lelaki dengan lelaki atau wanita dengan wanita. Atau apakah anak kecilnya di bawah 10 tahun ataukah di atas 10 tahun. Namun secara ringkas kami sebutkan apa yang ada di Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah:
نص الحنفية على أنه يفرق بين الصبيان وبين الرجال والنساء في المضاجع لأن ذلك يدعو إلى الفتنة ولو بعد حين، وذكر ابن عابدين نقلا عن البزازية: إذا بلغ الصبي عشرا لا ينام مع أمه وأخته وامرأة إلا امرأته، وهذا خوفا من الوقوع في المحذور. فإن الولد إذا بلغ عشرا عقل الجماع ولا ديانة له ترده فربما وقع على أخته أو أمه فإن النوم وقت راحة مهيج للشهوة وترتفع فيه الثياب عن العورة من الفريقين، فيؤدي إلى المحذور وإلى المضاجعة المحرمة، وكذلك لا يترك الصبي ينام مع والديه في فراشهما لأنه ربما يطلع على ما يقع بينهما بخلاف ما إذا كان نائما وحده أو مع أبيه وحده أو البنت مع أمها وحدها. ولا يترك أيضا أن ينام مع رجل أو امرأة أجنبيين خوفا من الفتنة، ولاسيما إذا كان صيبحا فإنه وإن لم يحصل في تلك النومة شيء فيتعلق به قبل الرجال أو المرأة فتحصل الفتنة بعد حين، ومن لم يحتط في الأمور يقع في المحذور، وقال المالكية إن تلاصق بالغ وغير بالغ بغير حائل فحرام في حق البالغ مكروه في حق غيره، والكراهة متعلقة بوليه، وأما بحائل فمكروه في حق البالغ إلا لقصد لذة فحرام.
وأما رجل وأنثى فلا شك في حرمة تلاصقهما تحت لحاف واحد ولو بغير عورة، ولو من فوق حائل لأن الرجل لا يحل له الاختلاط بالأنثى فضلا عن تلاصقهما
“Madzhab Hanafi berpendapat wajibnya memisahkan antara anak kecil laki-laki dan wanita di tempat tidur mereka karena hal itu bisa menimbulkan fitnah (keburukan) walaupun keburukannya itu akan muncul beberapa di masa yang akan datang. Ibnu Abidin menukil perkataan Al Bazaziyyah: ‘jika anak kecil sudah berusia 10 tahun maka tidak boleh tidur bersama ibunya atau saudara perempuannya kecuali kalau dia perempuan. karena dikhawatirkan akan terjerumus pada perkara yang dilarang. Karena seorang anak jika sudah berusia 10 tahun ia mulai bisa memahami soal jima’ dan ketika itu ia belum memiliki agama yang kokoh yang bisa menghalaunya dari hal itu. Maka terkadang pikiran tersebut muncul dari ketika melihat ibunya atau saudaranya tidur. Karena tidur itu adalah saatnya istirahat, yang bisa memicu syahwat. Dan ketika itu pakaian tersingkap dan terlihatlah aurat dari dua keduanya. Maka hal ini bisa menyeret pada perkara yang terlarang di tempat tidur. Demikian juga, jangan biarkan anak tidur bersama kedua orang tuanya di ranjang mereka karena terkadang ia akan melihat apa yang dilakukan kedua orang tuanya. Hal ini tidak terjadi jika si anak tidur sendirian saja, atau hanya bersama ayahnya saja, anak wanita bersama anaknya saja.
Dan jangan biarkan juga si anak tidur bersama laki-laki atau wanita ajnabi (yang bukan mahram) karena dikhawatirkan terjadi fitnah. Karena walaupun tidak terjadi apa-apa ketika tidur saat itu, namun dikhawatirkan si anak memiliki keterkaitan hati dengan laki-laki atau wanita tadi, lalu terjadi fitnah di masa mendatang.
Barangsiapa yang tidak serius memperhatikan hal-hal seperti ini akan terjerumus pada perkara yang terlarang. Ulama Malikiyyah berkata, jika seorang yang baligh tidur berdampingan dengan anak yang belum baligh tanpa pemisah maka hukumnya haram bagi si baligh dan makruh bagi si anak. Dan hukum makruh ini dibebankan kepada walinya. Adapun jika ada penghalang (pemisah) maka makruh bagi si baligh, kecuali jika ia ingin bernikmat-nikmat maka haram.
Adapun wanita dan laki-laki tidur berdampingan di bawah satu selimut, maka tidak diragukan lagi keharamannya, walaupun tidak menyentuh aurat. Demikian juga walaupun ada penghalang, karena seorang lelaki tidak dihalalkan ikhtilath (berduaan) dengan wanita, maka lebih lagi jika sampai tidur berdampingan’”. [selesai].
Wallahu a’lam.
Sumber: Fatwa Islamweb.Net (yang dibina oleh Syaikh Abdullah Al Faqih)
—
Penerjemah: Yulian Purnama
Artikel Muslimah.Or.Id
Selasa, 06 Mei 2014
My Life, My Soul, Keep Hamasah Keep Istiqomah
Assalamu'alaikum Warahmatullahiwabarakatuh..
Yap.. sudah lama aku tidak membuka blog ini, bisa jadi karena aku lupa kalau aku punya blog pribadi ( pengganti buku diaryku :) , ada yang mau aku share disini.. yakni 1 kejadian yang ga pernah aku pikirkan sebelumnya.
Dari kecil ibu dan ayahku tidak pernah mempermasalahkan penampilanku asalkan aku bisa menjaga diri lahir batin, yang penting sholat 5 waktuku di lakukan terus, tidak putus bertilawah dan belajar makna yang terkandung di dalam Qur'annya,..kala itupun aku sangat nyaman dengan penampilanku yang cukup fashionable, aku berpenampilan seperti itu hingga umurku 18 tahun ( 2008 ), namun seiring berjalannya waktu disaat aku sedang menikmati masa itu, kejadian demi kejadian ( yah, itu mungkin teguran dari Allah ) aku merasa terpuruk dan makin terpuruk, marasa tidak akan ada yang bisa membantuku untuk menyelesaikan semua permasalahan yang aku alami saat itu, aku merasakan depresi yang amat sangat, namun kala itu tiba-tiba ada dorongan tersendiri untuk berubah, berubah jadi yang lebih baik tentunya, tiap tidurku aku selalu bermimpi seperti ada yang sedang mengaji dan bershalawat, sampai aku bermimpi buruk tentang orang tuaku, Ya Allah aku berfikir saat itu,, ada apa ini apa yg harus aku lakukan ? keesokan harinya entah ada angin darimana ibuku membelikanku 3 buah kerudung segi empat dengan corak yang bagus, beliau memintaku untuk memakainya dan lebih mendekatkan diri kepada Allah, dan katanya aku akan semakin cantik memakai itu. Aku benar- benar berfikir saat itu, apakah ini jawabannya ? apakah dengan aku memakai hijab dan menuruti apa kata ibuku semua kegalauan , keterpurukan yang aku rasakan akan bisa teratasi ? yap.. tanpa pikir - pikir lagi aku memulainya.. memulai untuk berhijab , Bismillahirohmanirrohiim
Aku mulai memakai hijab di awal tahun 2009 , tapi ya begitu .. aku masih sangat asal - asalan memakai hijab kala itu, dengan balutan kaos panjang , celana jeans, sepatu kets dan hijab penuh dengan lilitan, penampilan seperti itu aku jalani berlangsung cukup lama, hingga akhirnya lagi lagi aku kembali merasakan kegalauan yang teramat sangat, aku merasa malu jika orang memperhatikanku, makin kesini makin merasa sangat malu, aku merasa sudah sangat tertutup namun entah orang - orang, khususnya para ikhwan jika memperhatikanku seperti ada sesuatu. Aku semakin merasa ada yang salah dengan penampilanku. Hingga suatu ketika aku menyaksikan tayangan di salah satu televisi swasta, ada sosok akhwat yang cantik, anggun, dengan makeup seadanya dan tentunya tertutup sekali, yap Oki Setiana Dewi, teduh sekali aku melihatnya, dengan balutan gamis dan kerudung ekstra lebar entah mengapa aku nyaman melihatnya. setelah menyaksikan itu aku makin gencar ingin tahu lebih dalam sosok akhwat sholehah yang satu ini, beliau menginspirasi sekali. Hingga akhirnya aku putuskan ingin seperti Beliau, berpenampilan syar'i nan teduh dan anggun tentunya Subhanallah.
Akhirnya pakaianku yang dulu kutinggalkan, kerudung-kerudung tipis yang biasanya kupakai hanya 1 rangkap, kini ku coba untuk memakai 2 rangkap agar tidak terlihat dalamnya. kaos-kaospun aku tinggalkan dan aku beralih ke pakaian Tunik ekstra besar serta rok rample. ternyata tak mudah memang, dari segi hati aku sangat mantap dengan perubahan ini, namun dari segi materi , yah aku hanya bisa membeli sebulan sekali itupun jikan ada sisa lebih. Tapi tak apalah aku hanya tinggal pintar2 memodifikasi pakaian2 muslim lamaku , bagaimana caranya supaya aku benar - benar tertutup auratnya .
Yah, seperti inilah aku sekarang, walaupun , belum maksimal tapi aku masih belajar belajar dan menjalani proses hijrahku menjadi lebih syar'i, aku tak peduli dengan omongan negatif orang, aku tak peduli dengan komentar jika aku terlihat sangat tua dengan pakaianku saat ini, aku tak peduli jika aku tak cantik dimata mereka.. sekali lagi aku tak peduli . karena yang berhak menjudge aku hanya Allah, biarlah aku jelek dimata mereka, namun disini aku berusaha untuk cantik untuk Allah, krn aku Cinta Allah aku cinta agamaku dan aku merasakan ekstra kenyamanan lahir batin.
Aku tak akan berhenti untuk belajar, belajar menjadi yang lebih baik dalam hal apapun , jadi anak mama papa yang sholehah terutama. Saat proses inipun aku tak luput akan kesalahan, tapi aku yakin , Allah selalu bersamaku, aku akan belajar dari kesalahanku untuk menjadi muslimah yang lebih baik lagi dimata Orang sekitar dan Allah tentunya,
Bismillahirrohmanirrohiim.. Ya Allah Mudahkanlah aku ..Aamiin :)
Jumat, 10 Januari 2014
Wanita Dalam Islam :)
PERANAN WANITA DAN KEBANGKITAN UMMAT ISLAM MASA KINI Penulis : Dr. Yusuf Al-Qardhawi PERTANYAAN Apakah benar ada masa kebangkitan bagi ummat Islam? Jika ada, bagaimana peranan wanita dalam Islam secara umum dan pandangan terhadap wanita karier, dan bagi yang berpendidikan tinggi pada khususnya? JAWAB Tidak dapat diragukan lagi, bahwa kita hidup dalam era kebangkitan Islam, setelah sekian lama kaum Muslimin berada dalam keadaan tidak sadar dan lelap dalam tidurnya yang berkepanjangan, seperti halnya kaum Kahfi, dimana musuh-musuh mereka mengintervensi dari Barat, Timur, Selatan dan Utara. Kemudian menjajah dan menguasainya, sehingga dengan mudah menjatuhkan mereka dari agamanya, yaitu Islam. Lalu diganti secara paksa peraturan-peraturan baru, hukum-hukum baru, baik dalam masalah politik maupun sosial. Hal-hal yang demikian itu terjadi pada saat kaum Muslimin dalam keadaan tidak sadar. Kemudian berkat perjuangan ahli-ahli fiqih dan dakwah, maka terjadilah pembaruan untuk membangun pusat dakwah Islamiah dan perorangan di mana-mana. Dengan takdir Allah, maka terjadilah kebangkitan ummat Islam. Hal ini sudah biasa bagi ummat Islam dan sesuai dengan sifatnya, bahwa ummat Islam tidak mungkin mati selamanya, tanpa bangkit kembali. Karenanya, agama yang hidup mengharuskan ummatnya hidup; dan Allah swt. dalam setiap masa selalu mengangkat seseorang, untuk membawa keharuman agama bagi ummatnya. Dalam setiap masa selalu timbul di tengah-tengah ummat Islam, orang-orang yang membela kebenaran, walau bahaya menentangnya, sampai datangnya hari Kiamat. Maka dari itu, keluarlah suara-suara untuk mengajak bagi ditegakkannya kebenaran dan dipraktekkannya agama Islam secara utuh serta pembaruan, sebagaimana dapat dirasakan seperti sekarang ini. Sebenarnya, kebangkitan ini meliputi semua aspek. Sebagian orang mengira di saat permulaan hanya suara saja yang timbul, disebabkan oleh perasaan dan semangat. Sementara kenyataan menjadi sebaliknya, setiap waktu bertambah kuat semangat yang menyala, perasaan yang hidup dalam kesadaran pada agama tersebut, dan kebangkitan berdasarkan pikiran yang sehat, setelah lama hidup jauh dari kemurnian dan kebenarannya. Sadar akan akibat dan keadilannya di segala bidang. Sungguh telah berubah semua perasaan dan simpatik, yang dulunya di bawah naungan gerakan Nasionalisme dan Sosialisme, serta lain-lainnya, dari aliran yang bertentangaan dengan agama. Maka, pikiran-pikiran yang semula dipengaruhi oleh paham-paham yang bukan bersumber pada Islam, karena belum paham terhadap Islam, sekarang ini mereka sadar akan kebenaran dan kemurnian dari ajaran Islam. Mereka paham bahwa Islam itu bukan ibadat saja, tetapi menyangkut segi akidah, akhlak yang luhur, muamalah (jual-beli) yang baik, dan hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah. Bahkan Islam itu adalah amanat dan risalah yang dapat mengatur kehidupan manusia sebelum lahirnya manusia, sesudah lahir, ketika masih berupa janin, di waktu hidup dan ketika mati. Begitu juga di waktu bangkit kembali. Kcbangkitan ini termasuk kebangkitan berpikir. Kita telah melihat buku-buku yang telah ditulis oleh ahli-ahli pikir dan penulis-penulis terkenal. Di mana-mana, terutama di perpustakaan, penuh dengan bermacam-macam buku yang dibaca para generasi muda Islam, mulai dari yang berpendidikan rendah sampai yang berpendidikan tinggi, mereka mempelajarinya secara mendalam. Adapun masa kemunduran dan bekunya pikiran adalah disebabkan oleh banyak hal, diantaranya ialah: Pada masa itu banyak pikiran-pikiran yang condong dan menganggap harus ikut peradaban Barat di segala bidang. Tiada jalan bagi kemajuan, kecuali mengambil peradaban Barat secara keseluruhan, baik, buruk, pahit dan manis. Sehingga para simpatisan giat mencari dalil untuk menguatkan kedudukan dan peradaban orang asing; bahkan hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan mereka, dicela dan dianggap tidak sempurna, misalnya dalam masalah talak, riba, poligami dan sebagainya. Sekarang ini lain halnya, semua masalah dihadapi dengan bahasa ilmiah dan pikiran yang sehat, walaupun mereka dalam masa kemajuan telah mencapai bulan dan dengan mudah manusia dapat menikmati hidup yang mewah, tetapi mereka gagal dalam membina ketenangan jiwanya. Mereka hanya memperhatikan sarana bagi sesuatu, tetapi mereka mengabaikan tujuan luhur dari kehidupan ini, dan itu hanya bisa diarahkan oleh Islam. MASALAH YANG TIDAK DAPAT DIJAWAB Peradaban masyarakat Barat tidak dapat menjawab pertanyaan berikut ini: Untuk apakah manusia ini hidup, dari mana dan hendak ke mana mereka pergi? Peradaban Barat tidak dapat memberi kebahagiaan dan kesejahteraan bagi manusia. Maka Islamlah satu-satunya agama alternatif yang dapat mengungkapkan kelemahan dan ketidakmampuan mereka dalam menghadapi tantangan kehidupan yang menuju ke arah kesejahteraan di dunia maupun di akhirat. Islamlah yang dapat menjawab dan memecahkan semua permasalahan, baik masalah politik, sosial dan lainnya. PERANAN KAUM INTELEKTUAL Perhatian akan masalah-masalah Islam tidak saja terbatas kepada orang-orang berusia lanjut, bahkan tampak lebih besar perhatian semangatnya di kalangan para pelajar dan ilmuwannya, baik laki-laki maupun wanita. Mereka giat mempelajari masalah-masalah Islam dan mempraktekkannya di masjid dan tempat-tempat ibadat lainnya yang selalu dipenuhi oleh segenap lapisan ummat Islam. PERANAN WANITA Jika kita membaca Al-Qur'an, maka dapat kita ketahui bahwa penciptaan Nabi Adam as. bersamaan dengan ibu Hawa, yang berfungsi sebagai istri dan kawan hidup beliau. Kita mengetahui kisah istri Fir'aun, yang dapat mencegah Fir'aun dalam niatnya untuk membunuh Nabi Musa as. Sebagaimana tercantum dalam firman Allah swt.: "Dan berkatalah istri Fir'aun, '(Ia) biji mata bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita pungut menjadi anak, sedangkan mereka tidak mzenyadari." (Q.s. Al-Qashash: 9). Kita simak kisah dimana ada dua wanita di kota Madyan, keduanya putri Asy-Syekh Al-Kabir, yang diberi air minum oleh Nabi Musa as. Kemudian kedua wanita tersebut mengusulkan kepada ayahnya, supaya memberi pekerjaan kepada Nabi Musa as. karena beliau memiliki amanat (dapat dipercaya) dan fisiknya kuat. Sebagaimana yang tertera dalam firman Allah swt.: "Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, 'Wahai Bapakku, ambillah dia sebagai orang yang bekerja (kepada kita), karena sesungguhnya orang yang terbaik, yang kamu ambil untuk bekerja (kepada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya'." (Q.s. Al-Qashash: 26). Kita simak lagi kisah ratu Balqis di negeri Yaman, yang terkenal adil dan memiliki jiwa demokrasi. Ratu ini setelah menerima surat dari Nabi Sulaiman as. yang isinya seruan untuk taat kepada Allah dan menyembah kepada-Nya, lalu dia meminta pendapat kepada kaumnya dan bermusyawarah untuk mengambil sebuah putusan bersama. Firman Allah swt.: "Berkata dia (Balqis), 'Hai para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini), aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku).' Mereka menjawab, 'Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang luar hiasa (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah yang akan kamu perintahkan'." (Q.s. An-Naml: 32-3). Kemudian dia berkata, sebagaimana yang telah difirmankan Allah swt.: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang terhormat jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat." (Q.s. An-Naml: 34). Kesimpulan dari pendapat ratu tersebut ialah bahwa penguasa-penguasa di dunia ini jika mereka hendak menguasai suatu negeri, maka mereka akan merusak dua hal, yaitu merusak negara dan moral penduduknya. Oleh karena itu, di dalam Al-Qur'an telah disebutkan nama-nama wanita selain wanita-wanita yang tersebut di atas, yang ada hubungannya dengan kisahnya masing-masing. Misalnya, ibu Nabi Isa as, Maryam Al-Batul. PERANAN WANITA PADA MASA NABI MUHAMMAD SAW. Adapun peranan wanita pada masa hidupnya Nabi Muhammad saw. yang kita kenal ialah yang memelihara Nabi saw, yaitu Aminah ibu beliau; yang menyusuinya, Halima As-Sa'diyah; dan yang menjadi hadina (pengasuh) bagi beliau, Ummu Aiman r.a. dari Habasyah. Nabi saw. telah bersabda, "Bahwa dia adalah ibuku setelah ibuku sendiri." Kemudian kita kenal Siti Khadijah binti Khuwailid r.a, wanita pertama yang beriman dan membantunya, Siti Aisyah, Ummu Salamah, dan lain-lainnya, dari Ummahaatul Mukmtniin (ibu dari kaum Mukmin), istri-istri Nabi, dan istri-istri para sahabat Rasulullah saw. AKTIVITAS WANITA MASA KINI Sebenarnya, usaha (kiprah) kaum wanita cukup luas meliputi berbagai bidang, terutama yang berhubungan dengan dirinya sendiri, yang diselaraskan dengan Islam, dalam segi akidah, akhlak dan masalah yang tidak menyimpang dari apa yang sudah digariskan atau ditetapkan oleh Islam. Wanita Muslimat mempunyai kewajiban untuk memperkuat hubungannya dengan Allah dan menyucikan pikiran serta wataknya dari sisa-sisa pengaruh pikiran Barat. Harus mengetahui cara menangkis serangan-serangan kebatilan dan syubuhat terhadap Islam. Harus diketahui dan disadari hal-hal yang melatarbelakanginya, mengapa dia harus menerima separuh dari bagian yang diterima oleh kaum laki-laki dalam masalah hak waris? Mengapa saksi seorang wanita itu dianggap separuh dari laki-laki? Juga harus memahami hakikatnya, sehingga iman dan Islamnya bersih, tiada keraguan lagi yang menyelimuti benak dan pikirannya. Dia harus menjalankan secara keseluruhan mengenai akhlak dan perilakunya, sesuai dengan yang dikehendaki oleh Islam. Tidak boleh terpengaruh oleh sikap dan perilaku wanita non-Muslim atau berpaham Barat. Karena mereka bebas dari pikiran dan peraturan-peraturan sebagaimana yang ada pada agama Islam. Mereka tidak terikat pada perkara halal dan haram, baik dan buruk. Banyak diantara kaum wanita yang meniru mereka secara buta, misalnya memanjangkan kuku yang menyerupai binatang buas, pakaian mini, tipis (transparan), atau setengah telanjang, dan sebagainya. Cara yang demikian itu adalah meniru orang yang buta akan hal-hal terlarang. Nabi saw. telah bersabda: "Janganlah kamu menjadi orang yang tidak mempunyai pendirian dan berkata, 'Aku ikut saja seperti orang-orang itu. Jika mereka baik, aku pun baik; jika mereka jahat, aku pun jadi jahat.' Tetapi teguhkan hatimu dengan keputusan bahwa jika orang-orang melakukan kebaikan, maka aku akan mengerjakannya; dan jika orang-orang melakukan kejahatan, maka aku tidak akan mengerjakan." PERANAN WANITA DALAM KELUARGANYA Di dalam Al-Qur'an telah ditetapkan, semua penetapan dan perintah ditujukan kepada kedua pihak, laki-laki dan wanita, kecuali yang khusus bagi salah satu dari keduanya. Maka, kewajiban bagi kaum wanita di dalam keluarganya ialah menjalankan apa yang diwajibkan baginya. Jika dia sebagai anak, kemudian kedua orangtuanya atau salah satunya menyimpang dari batas yang telah ditentukan oleh agama, maka dengan cara yang sopan dan bijaksana, dia harus mengajak kedua orangtuanya kembali ke jalan yang baik, yang telah menjadi tujuan agama, disamping tetap menghormati kedua orangtua. Wajib bagi setiap wanita (para istri), yaitu membantu suaminya dalam menjalankan perintah agama, mencari rezeki yang halal, menerima dan mensyukuri yang dimilikinya dengan penuh kesabaran, dan sebagainya. Wajib pula bagi setiap ibu, mengajar anak-anaknya taat kepada Allah, yakni dengan menjauhi larangan-Nya dan menjalankan perintah-Nya, serta taat kepada kedua orangtuanya. Kewajiban bagi setiap wanita terhadap kawan-kawannya yang seagama, yaitu menganjurkan untuk membersihkan akidah dan tauhidnya dari pengaruh di luar Islam; menjauhi paham-paham yang bersifat merusak dan menghancurkan sendi-sendi Islam dan akhlak yang luhur, yang diterimanya melalui buku, majalah, film, dan sebagainya. Dengan adanya tindakan-tindakan di luar Islam, yang ditimbulkan oleh sebagian kaum Muslimin terhadap wanita yang kurang bijaksana dan insaf, maka hal inilah yang menyebabkan terpengaruhnya mereka pada peradaban Barat dan paham-pahamnya. Harus diakui, bahwa hak-hak wanita di sebagian masyarakat Islam belum diberikan secara penuh. Harus diketahui pula, bahwa suara pertama dari kaum wanita dalam menguatkan dakwah dan risalah Muhammad saw. ialah suara Khadijah binti Khuwailid r.a. kepada Rasulullah saw.: "Demi Allah, Tuhan tidak akan mengecewakan engkau sama sekali. Sesungguhnya engkau bersilaturrahmi, menghubungi keluarga dan mengangkat beban berat, memberi kepada orang yang tidak punya, menerima dan memberi (menghormati) kepada tamu, serta menolong orang-orang yang menderita." Orang pertama yang berperan sebagai syuhada ialah Ummu Amr binti Yasir Ibnu Amar yang bernama Samiah, dia bersama suaminya disiksa, agar mereka keluar dari agama Islam. Tetapi mereka tetap bertahan dan sabar, sehingga dia mati syahid bersama suaminya. Ketika Rasulullah saw. melintasi mereka, dan melihat mereka dalam keadaan disiksa, lalu Rasulullah saw. berkata kepada mereka, "Sabarlah wahai Al-Yasir, sesungguhnya kita nanti akan bertemu di surga."
**Artikel ini merupakan artikel lepas yang ditulis
oleh Dr. Yusuf Al-Qardhawi. Dikutip dari Majalah "Al-Ummah,"
no. 66, Pebruari 1986, hlm. 40-5. Dimuatnya artikel ini
menurut hemat kami amat layak. (Penerjemah).
sumber http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Fatawa/PerananWanita.html
Lagu Astrid " Terpukau "
Aku memang belum beruntung
Untuk menjatuhkan hatimu
Aku masih belum beruntung
Namun tinggi harapanku
Tuk hidup berdua denganmu
Untuk menjatuhkan hatimu
Aku masih belum beruntung
Namun tinggi harapanku
Tuk hidup berdua denganmu
Aku sempurna denganmu
Ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat aku terpukau
Ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat aku terpukau
Aku sungguh sangat bermimpi
Untuk mendampingi hatimu
Ku masih terus bermimpi
Sangat besar harapanku
Tuk hidup berdua denganmu
Untuk mendampingi hatimu
Ku masih terus bermimpi
Sangat besar harapanku
Tuk hidup berdua denganmu
Aku sempurna denganmu
Ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat aku terpukau
Ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat aku terpukau
Denganmu aku sempurna
Denganmu ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat
Denganmu ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat
Denganmu aku sempurna
Denganmu ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat aku terpukau
Denganmu ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat aku terpukau
------------------------------------------------------------------
lagu indonesia yang cukup keren dan sejuk kalo gw denger.. dengerin lagu ini sambil pejamkan mata, terbayang .. ya benar-benar terbayang sesuatu entah akan bisa terulang lagi atau ga.. hahaha ngarep banget ya gw..
tapi yang jelas emang ni lagu menurut gw cukup berbobot dan punya prestasinya.. ga cuma lirik lagunya yg enak banget di denger tapi suara khas si penyanyi menyempurnakan lagu itu.. keren.. bener - bener keren.
Yah, gw harap penyanyi2 sekarang gak hanya jual tampang sama body yang ok.. tapi prestasi yg harus ditonjolkan seperti penyanyi-penyanyi zaman baheula.. seperti Nicky Astria , Nike Ardilla, sheila on 7, base jam, dan sebagainya .
yup.. sukses untuk Kak Astrid dan semoga lagu-lagu indonesia kita makin berjaya dan berkualitas di negara sendiri maupun internasional, jangan mau kalah yaa sama lagu - lagu barat dan korea :)
_Nia_
Kamis, 09 Januari 2014
HIJAB ITU KEWAJIBAN TIAP MUSLIMAH
Supaya adil dan tetap berbaik sangka, mari kita baca dua berita dari detik.com sebagaimana saya lampirkan dibawah ini
Jumat, 29/11/2013 19:52 WIB “Beredar Kabar Polri Larang Sementara Polwan Berjilbab”
Jakarta – Tersiar kabar adanya Telegram Rahasia (TR) yang berisi pelarangan sementara bagi Polwan yang ingin menggunakan jilbab. Kabar ini tentu bertolak belakang dengan pernyataan Kapolri Jenderal Sutarman yang mempersilakan Polwan untuk berjilbab.
Anggota Kompolnas Hamidah Abdurrahman menyatakan, kabar tersebut benar adanya. Namun Hamidah sendiri belum melihat langsung isi surat yang menyatakan Polwan untuk tidak dulu mengenakan jilbab sampai dengan keluar payung hukum yang mengatur mengenai itu.
“Yang menandatangani itu Pak Wakapolri,” kata Hamidah saat dihubungi wartawan, Jumat (29/11/2013).
Dari informasi yang diterimanya, isi surat menyatakan perlu diatur lebih lanjut mengenai pengenaan jilbab di lingkungan Polri. Surat tersebut disebar ke masing-masing Kapolda.
“Tentu sangat disayangkan, karena ini bertolak-belakang dengan pernyataan Kapolri sebelumnya yang mempersilakan Polwan mengenakan jilbab, Kapolri tidak konsisten,” katanya.
Dihubungi terpisah, Kadiv Humas Polri Irjen Ronny F Sompie membantah perihak surat larangan berjilbab tersebut. “Enggak ada larangan, itu kan hak asasi manusia,” ujar Ronny.
Meski belum ada aturan baku mengenai pengenaan jilbab, imbuh Ronny, para Polwan tersebut secara aturan berjilbab diharapkan mengacu kepada peraturan berjilbab di Aceh
Minggu, 01/12/2013 11:00 WIB “Penundaan Jilbab Bagi Polwan; Komjen Oegroseno: Polri Organisasi Resmi Negara, Bukan Arisan Ibu-ibu RT/RW”
Jakarta – Wakil Kapolri Komjen Oegroseno tegas menyatakan penundaan penggunaan jilbab di kalangan Polwan hingga ada payung hukum yang mengatur hal tersebut. Penundaan itu dikarenakan polisi merupakan organisasi resmi negara.
“Polri itu organisasi resmi negara, bukan organisasi arisan ibu-ibu RT/RW,” ujar Oegro saat dihubungi detikcom, Minggu (1/12/2013).
Bukankah bisa mengacu pada tata cara penggunaan jilbab di Polda Aceh yang sudah lama berlaku? “Mengacu pun itu juga harus pakai peraturan Kapolri (Perkap),” jawab Oegro.
Komjen Oegro membandingkan peraturan tersebut dengan aturan-aturan lain yang mengikat setiap personel Polri.
“Sama dengan anggota Polri boleh bersenjata api, apakah anggota Polri diizinkan beli senjata sendiri dan menyimpan sendiri?” tanya Oegro.
“Kan harus ada aturan yang mengatur, yaitu peraturan Kapolri,” imbuhnya.
Komjen Oegroseno membenarkan pihaknya mengeluarkan surat edaran terkait penggunaan jilbab di kalangan Polwan. Surat tersebut berisi mengenai ketentuan penggunaan jilbab nanti di lingkungan kepolisian.
Sebagaimana yang kita ketahui, Polri memang sebuah lembaga negara, dan memang memiliki aturan tersendiri namun yang perlu kita pertanyakan pertama-tama adalah apakah lantas aturan yang Polri itu layak diutamakan dan layak didahulukan daripada aturan Allah Swt?
Semua Muslim jelas mengakui bahwa Allah itu yang menciptkan alam semesta termasuk manusia, lalu memerintahkan semua manusia agar menyembah kepada-Nya secara penuh, karena kepada-Nya setiap jiwa akan dikembalikan dan diminta pertanggungjawaban atas semua perbuatannya di dunia.
Maka Allah pun menurunkan aturan bagaimana cara menyembah-Nya di dunia, dan aturan inilah yang layak diutamakan dan didahulukan, bahkan menjadi landasan dan dasar pertimbangan bagi aturan-aturan teknis lainnya yang dibuat manusia untuk tidak menyimpang apalagi menyalahi dari aturan Allah.
Allah sendiri telah mengatur ketentuan hijab atau penutup aurat dengan jelas bagi Muslimah (tanpa terkecuali polisi wanita) pada QS 24:31 dan QS 33:59. Dan dipertegas dengan hijan kelakuan pada QS 33:33. Semua ulama salaf dari dulu hingga sekarang tidak ada yang berbeda pendapat tentang ketentuan hijab yang diambil dari kitab suci Al-Qur’an. Kitab yang diimani oleh mayoritas rakyat Indonesia termasuk kepolisian tentunya.
Tidak lantas karena Polri adalah lembaga resmi negara, lalu Polri boleh mengharamkan yang sudah dihalalkan oleh Allah atau bahkan melarang yang sudah Allah perintahkan kepada hamba-Nya.
Mengenai aturan teknis tentu saja itu kewenangan Polri dan bisa dibicarakan dibelakang, namun tidak dengan pelarangan dengan alasan belum ada peraturan atau payung hukum yang mengaturnya.
Apakah lantas ketika belum ada ketentuan Polri tentang shalat (yang juga sama wajibnya seperti hijab), lantas polisi-polisi harus menunda shalatnya? Tentu tidak.
Yang kedua, bukankah ketika seorang polisi lalu diapun bertakwa kepada Allah Tuhannya lantas dia akan semakin menjalankan tugasnya dengan baik? Karena bukan hanya manusia yang lemah dan terbatas sebagai pengawasnya, namun Allah Yang Maha Tahu dan Selalu Terjaga itulah yang mengawasinya. Nilai pekerjaannya pun menjadi ganda, mengamankan di dunia, dan diapun aman di akhirat.
Tentu jika seorang polisi lelaki maupun wanita dia menaati Allah, maka akan semakin aman tenteram negeri kita ini. Polisi akan jauh dari pandangan manusia yang negatif semisal suap, main hakim sendiri, menyulitkan dan arogan. Saya secara pribadi mengenal polisi-polisi yang salih dan taat dan itu sangat membentuk citra positif terhadap kepolisian.
Yang ketiga, bilapun Polri masih terbentur ketentuan hukum dan menunggu payung yang menjadi dasar administratif dari aturan berhijab tersebut, tidak perlu kiranya mengeluarkan pernyataan-pernyataan resmi dari petinggi Polri yang bisa menimbulkan keresahan pada ummat Islam, apalagi pernyataan yang terkesan mengolok-olok aturan Allah seperti “Polri itu organisasi resmi negara, bukan organisasi arisan ibu-ibu RT/RW”.
Apakah lantas yang dimaksud Wakapolri, hanya ibu-ibu arisan yang wajib menggunakan hijab? Atau malah memandang organisasi Polri lebih hebat dan lebih mulia dari arisan ibu-ibu RT/RW? MasyaAllah semoga Wakapolri selalu dijauhkan Allah dari sifat arogan dalam berlisan dan bertindak.
Sebagai rakyat biasa tentu kita mengharapkan kebijakan-kebijakan petinggi negara yang lebih bajik lagi dalam memandang satu hal, lebih memperhatikan bahwa kita bukan hanya manusia yang hanya hidup di dunia namun juga akan mempertanggungjawabkan semua yang kita punya pada Allah Swt.
Kita juga menghimbau kepada Polri untuk memberikan pengawasan ekstra pada pernyataan-pernyataan yang mengusik ketenangan dan memancing keburukan. Karena sebagaimana yang kita ketahui pada awal-awal isu hijab polwan di bulan Juni 2013 ini, Wakapolri (Nanan Soekarna) juga sempat mengeluarkan pernyataan “Aturan di kepolisian memang tidak boleh berjilbab,” lalu dilanjutkan “Kalau keberatan sebetulnya ya silakan, tidak jadi polwan”.
Keempat, mengenai busana Polri agar tidak makin seksi. Alhamdulillah, inilah yang pernyataan yang baik lagi sesuai dengan Islam. Sebagaimana kami kutipkan dari tempo.co/read/news/2013/12/02/063533889/Oegroseno-Jangan-Sampai-Jilbab-Lebih-Seksi
“Akhirnya dengan Irwasum memutuskan ditunda dulu. Jangan sampai menggunakan jilbab lebih seksi,” ujar Oegroseno dalam perayaan Ulang Tahun Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara, Senin, 2 Desember 2013.
Wakapolri Oegroseno berpendapat, model baju muslim lebih cocok digunakan ketimbang hanya jilbab namun bajunya masih ketat. “Nanti malah menimbulkan nafsu-nafsu tertentu,”
Begitulah seharusnya hijab syar’i, tidak ketat dan tidak transparan, karena sudah ada ketentuan-ketentuan dari Allah yang menjadi pembatas. Kita tentu mengapresiasi hal ini dan saya siap membantu seandainya Polri memerlukan konsultasi mengenai hijab syar’i yang bisa diaplikasikan di kepolisian.
Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi saya selaku hamba Allah yang masih jauh dari kebaikan-kebaikan yang Allah perintahkan. Juga sebagai tanda peduli saya pada kepolisian Indonesia, juga sebagai kewajiban saya sbagai seorang Muslim untuk menyampaikan Islam.
Kita doakan pula dengan tulus semoga Kapolri menuntaskan niat baiknya mengizinkan polwan untuk berhijab karena tidak pantas manusia melarang apa yang sudah diizinkan dan diwajibkan oleh AllahSwt. Pada Allah kita berserah dan kita mendoakan selalu agar polisi-polisi kita diberikan Allah kebaikan dan kemudahan dalam menaati-Nya
Akhukum @felixsiauw
Rabu, 08 Januari 2014
YKS .. YUK KITA SABAR
Hakikat Sabar (1)
Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)
Pengertian Sabar
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)
Macam-Macam Sabar
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:
- Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
- Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah
- Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)
Sebab Meraih Kemuliaan
Di dalam Taisir Lathifil Mannaan Syaikh As Sa’di rahimahullah menyebutkan sebab-sebab untuk menggapai berbagai cita-cita yang tinggi. Beliau menyebutkan bahwa sebab terbesar untuk bisa meraih itu semua adalah iman dan amal shalih.
Di samping itu, ada sebab-sebab lain yang merupakan bagian dari kedua perkara ini. Di antaranya adalah kesabaran. Sabar adalah sebab untuk bisa mendapatkan berbagai kebaikan dan menolak berbagai keburukan. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah ta’ala, “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah [2]: 45).
Yaitu mintalah pertolongan kepada Allah dengan bekal sabar dan shalat dalam menangani semua urusan kalian. Begitu pula sabar menjadi sebab hamba bisa meraih kenikmatan abadi yaitu surga. Allah ta’ala berfirman kepada penduduk surga, “Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.”(QS. Ar Ra’d [13] : 24).
Allah juga berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan kedudukan-kedudukan tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran mereka.” (QS. Al Furqaan [25] : 75).
Selain itu Allah pun menjadikan sabar dan yakin sebagai sebab untuk mencapai kedudukan tertinggi yaitu kepemimpinan dalam hal agama. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala, “Dan Kami menjadikan di antara mereka (Bani Isra’il) para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan titah Kami, karena mereka mau bersabar dan meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah [32]: 24) (Lihat Taisir Lathifil Mannaan, hal. 375)
Sabar Dalam Ketaatan
Sabar Dalam Menuntut Ilmu
Syaikh Nu’man mengatakan, “Betapa banyak gangguan yang harus dihadapi oleh seseorang yang berusaha menuntut ilmu. Maka dia harus bersabar untuk menahan rasa lapar, kekurangan harta, jauh dari keluarga dan tanah airnya. Sehingga dia harus bersabar dalam upaya menimba ilmu dengan cara menghadiri pengajian-pengajian, mencatat dan memperhatikan penjelasan serta mengulang-ulang pelajaran dan lain sebagainya.
Semoga Allah merahmati Yahya bin Abi Katsir yang pernah mengatakan, “Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan banyak mengistirahatkan badan”, sebagaimana tercantum dalam shahih Imam Muslim. Terkadang seseorang harus menerima gangguan dari orang-orang yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang hubungannya jauh darinya, hanya karena kegiatannya menuntut ilmu. Tidak ada yang bisa bertahan kecuali orang-orang yang mendapatkan anugerah ketegaran dari Allah.” (Taisirul wushul, hal. 12-13)
Sabar Dalam Mengamalkan Ilmu
Syaikh Nu’man mengatakan, “Dan orang yang ingin beramal dengan ilmunya juga harus bersabar dalam menghadapi gangguan yang ada di hadapannya. Apabila dia melaksanakan ibadah kepada Allah menuruti syari’at yang diajarkan Rasulullah niscaya akan ada ahlul bida’ wal ahwaa’ yang menghalangi di hadapannya, demikian pula orang-orang bodoh yang tidak kenal agama kecuali ajaran warisan nenek moyang mereka.
Sehingga gangguan berupa ucapan harus diterimanya, dan terkadang berbentuk gangguan fisik, bahkan terkadang dengan kedua-keduanya. Dan kita sekarang ini berada di zaman di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita, Dialah sebaik-baik penolong” (Taisirul wushul, hal. 13)
Sabar Dalam Berdakwah
Syaikh Nu’man mengatakan, “Begitu pula orang yang berdakwah mengajak kepada agama Allah harus bersabar menghadapi gangguan yang timbul karena sebab dakwahnya, karena di saat itu dia tengah menempati posisi sebagaimana para Rasul. Waraqah bin Naufal mengatakan kepada Nabi kitashallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah ada seorang pun yang datang dengan membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa melainkan pasti akan disakiti orang.”
Sehingga jika dia mengajak kepada tauhid didapatinya para da’i pengajak kesyirikan tegak di hadapannya, begitu pula para pengikut dan orang-orang yang mengenyangkan perut mereka dengan cara itu. Sedangkan apabila dia mengajak kepada ajaran As Sunnah maka akan ditemuinya para pembela bid’ah dan hawa nafsu. Begitu pula jika dia memerangi kemaksiatan dan berbagai kemungkaran niscaya akan ditemuinya para pemuja syahwat, kefasikan dan dosa besar serta orang-orang yang turut bergabung dengan kelompok mereka.
Mereka semua akan berusaha menghalang-halangi dakwahnya karena dia telah menghalangi mereka dari kesyirikan, bid’ah dan kemaksiatan yang selama ini mereka tekuni.” (Taisirul wushul, hal. 13-14)
Sabar dan Kemenangan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Allah ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan sungguh telah didustakan para Rasul sebelummu, maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan terhadap mereka dan mereka juga disakiti sampai tibalah pertolongan Kami.” (QS. Al An’aam [6]: 34).
Semakin besar gangguan yang diterima niscaya semakin dekat pula datangnya kemenangan. Dan bukanlah pertolongan/kemenangan itu terbatas hanya pada saat seseorang (da’i) masih hidup saja sehingga dia bisa menyaksikan buah dakwahnya terwujud. Akan tetapi yang dimaksud pertolongan itu terkadang muncul di saat sesudah kematiannya. Yaitu ketika Allah menundukkan hati-hati umat manusia sehingga menerima dakwahnya serta berpegang teguh dengannya. Sesungguhnya hal itu termasuk pertolongan yang didapatkan oleh da’i ini meskipun dia sudah mati.
Maka wajib bagi para da’i untuk bersabar dalam melancarkan dakwahnya dan tetap konsisten dalam menjalankannya. Hendaknya dia bersabar dalam menjalani agama Allah yang sedang didakwahkannya dan juga hendaknya dia bersabar dalam menghadapi rintangan dan gangguan yang menghalangi dakwahnya. Lihatlah para Rasul shalawatullaahi wa salaamuhu ‘alaihim. Mereka juga disakiti dengan ucapan dan perbuatan sekaligus.
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Demikianlah, tidaklah ada seorang Rasul pun yang datang sebelum mereka melainkan mereka (kaumnya) mengatakan, ‘Dia adalah tukang sihir atau orang gila’.” (QS. Adz Dzariyaat [51]: 52). Begitu juga Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan demikianlah Kami menjadikan bagi setiap Nabi ada musuh yang berasal dari kalangan orang-orang pendosa.” (QS. Al Furqaan [25]: 31). Namun, hendaknya para da’i tabah dan bersabar dalam menghadapi itu semua…” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)
Sabar di atas Islam
Ingatlah bagaimana kisah Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu yang tetap berpegang teguh dengan Islam meskipun harus merasakan siksaan ditindih batu besar oleh majikannya di atas padang pasir yang panas (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122). Ingatlah bagaimana siksaan tidak berperikemanusiaan yang dialami oleh Ammar bin Yasir dan keluarganya. Ibunya Sumayyah disiksa dengan cara yang sangat keji sehingga mati sebagai muslimah pertama yang syahid di jalan Allah. (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122-123)
Lihatlah keteguhan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu yang dipaksa oleh ibunya untuk meninggalkan Islam sampai-sampai ibunya bersumpahmogok makan dan minum bahkan tidak mau mengajaknya bicara sampai mati. Namun dengan tegas Sa’ad bin Abi Waqqash mengatakan, “Wahai Ibu, demi Allah, andaikata ibu memiliki seratus nyawa kemudian satu persatu keluar, sedetikpun ananda tidak akan meninggalkan agama ini…” (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 133) Inilah akidah, inilah kekuatan iman, yang sanggup bertahan dan kokoh menjulang walaupun diterpa oleh berbagai badai dan topan kehidupan.
Saudaraku, ketahuilah sesungguhnya cobaan yang menimpa kita pada hari ini, baik yang berupa kehilangan harta, kehilangan jiwa dari saudara yang tercinta, kehilangan tempat tinggal atau kekurangan bahan makanan, itu semua jauh lebih ringan daripada cobaan yang dialami oleh salafush shalih dan para ulama pembela dakwah tauhid di masa silam.
Mereka disakiti, diperangi, didustakan, dituduh yang bukan-bukan, bahkan ada juga yang dikucilkan. Ada yang tertimpa kemiskinan harta, bahkan ada juga yang sampai meninggal di dalam penjara, namun sama sekali itu semua tidaklah menggoyahkan pilar keimanan mereka.
Ingatlah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai seorang muslim.” (QS. Ali ‘Imran [3] : 102).
Ingatlah juga janji Allah yang artinya, “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya akan Allah berikan jalan keluar dan Allah akan berikan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath Thalaq [65] : 2-3).
Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran. Bersama kesempitan pasti akan ada jalan keluar. Bersama kesusahan pasti akan ada kemudahan.” (HR. Abdu bin Humaid di dalam Musnadnya [636] (Lihat Durrah Salafiyah, hal. 148) dan Al Haakim dalam Mustadrak ‘ala Shahihain, III/624). (Syarh Arba’in Ibnu ‘Utsaimin, hal. 200)
Sabar Menjauhi Maksiat
Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Bersabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah, sehingga dia berusaha menjauhi kemaksiatan, karena bahaya dunia, alam kubur dan akhirat siap menimpanya apabila dia melakukannya. Dan tidaklah umat-umat terdahulu binasa kecuali karena disebabkan kemaksiatan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam muhkam al-Qur’an.
Di antara mereka ada yang ditenggelamkan oleh Allah ke dalam lautan, ada pula yang binasa karena disambar petir, ada pula yang dimusnahkan dengan suara yang mengguntur, dan ada juga di antara mereka yang dibenamkan oleh Allah ke dalam perut bumi, dan ada juga di antara mereka yang di rubah bentuk fisiknya (dikutuk).”
Pentahqiq kitab tersebut memberikan catatan, “Syaikh memberikan isyarat terhadap sebuah ayat, “Maka masing-masing (mereka itu) kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al ‘Ankabuut [29] : 40).
“Bukankah itu semua terjadi hanya karena satu sebab saja yaitu maksiat kepada Allah tabaaraka wa ta’ala. Karena hak Allah adalah untuk ditaati tidak boleh didurhakai, maka kemaksiatan kepada Allah merupakan kejahatan yang sangat mungkar yang akan menimbulkan kemurkaan, kemarahan serta mengakibatkan turunnya siksa-Nya yang sangat pedih. Jadi, salah satu macam kesabaran adalah bersabar untuk menahan diri dari perbuatan maksiat kepada Allah. Janganlah mendekatinya.
Dan apabila seseorang sudah terlanjur terjatuh di dalamnya hendaklah dia segera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, meminta ampunan dan menyesalinya di hadapan Allah. Dan hendaknya dia mengikuti kejelekan-kejelekannya dengan berbuat kebaikan-kebaikan. Sebagaimana difirmankan Allah ‘azza wa jalla, “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan kejelekan-kejelekan.” (QS. Huud [11] : 114). Dan juga sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya.” (HR. Ahmad, dll, dihasankan Al Albani dalam Misykatul Mashaabih 5043)…” (Thariqul wushul, hal. 15-17)
Sabar Menerima Takdir
Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adalah Bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hamba-Nya. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya. Maka bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam semesta…” (Thariqul wushul, hal. 15-17)
Sabar dan Tauhid
Syaikh Al Imam Al Mujaddid Al Mushlih Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu ta’ala membuat sebuah bab di dalam Kitab Tauhid beliau yang berjudul, “Bab Minal iman billah, ash-shabru ‘ala aqdarillah” (Bab Bersabar dalam menghadapi takdir Allah termasuk cabang keimanan kepada Allah)
Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullahu ta’ala mengatakan dalam penjelasannya tentang bab yang sangat berfaedah ini, “Sabar tergolong perkara yang menempati kedudukan agung (di dalam agama). Ia termasuk salah satu bagian ibadah yang sangat mulia. Ia menempati relung-relung hati, gerak-gerik lisan dan tindakan anggota badan. Sedangkan hakikat penghambaan yang sejati tidak akan terealisasi tanpa kesabaran.
Hal ini dikarenakan ibadah merupakan perintah syari’at (untuk mengerjakan sesuatu), atau berupa larangan syari’at (untuk tidak mengerjakan sesuatu), atau bisa juga berupa ujian dalam bentuk musibah yang ditimpakan Allah kepada seorang hamba supaya dia mau bersabar ketika menghadapinya.
Hakikat penghambaan adalah tunduk melaksanakan perintah syari’at serta menjauhi larangan syari’at dan bersabar menghadapi musibah-musibah. Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh Allah jalla wa ‘ala untuk menempa hamba-hamba-Nya. Dengan demikian ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan melalui sarana keputusan takdir.
Adapun ujian dengan dibebani ajaran-ajaran agama adalah sebagaimana tercermin dalam firman Allah jalla wa ‘ala kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah hadits qudsi riwayat Muslim dari ‘Iyaadh bin Hamaar. Dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda“Allah ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengutusmu dalam rangka menguji dirimu. Dan Aku menguji (manusia) dengan dirimu’.”
Maka hakikat pengutusan Nabi ‘alaihish shalaatu was salaam adalah menjadi ujian. Sedangkan adanya ujian jelas membutuhkan sikap sabar dalam menghadapinya. Ujian yang ada dengan diutusnya beliau sebagai rasul ialah dengan bentuk perintah dan larangan.
Untuk melaksanakan berbagai kewajiban tentu saja dibutuhkan bekal kesabaran. Untuk meninggalkan berbagai larangan dibutuhkan bekal kesabaran. Begitu pula saat menghadapi keputusan takdir kauni (yang menyakitkan) tentu juga diperlukan bekal kesabaran. Oleh sebab itulah sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya sabar terbagi tiga; sabar dalam berbuat taat, sabar dalam menahan diri dari maksiat dan sabar tatkala menerima takdir Allah yang terasa menyakitkan.”
Karena amat sedikitnya dijumpai orang yang sanggup bersabar tatkala tertimpa musibah maka Syaikh pun membuat sebuah bab tersendiri, semoga Allah merahmati beliau. Hal itu beliau lakukan dalam rangka menjelaskan bahwasanya sabar termasuk bagian dari kesempurnaan tauhid. Sabar termasuk kewajiban yang harus ditunaikan oleh hamba, sehingga ia pun bersabar menanggung ketentuan takdir Allah.
Ungkapan rasa marah dan tak mau sabar itulah yang banyak muncul dalam diri orang-orang tatkala mereka mendapatkan ujian berupa ditimpakannya musibah. Dengan alasan itulah beliau membuat bab ini, untuk menerangkan bahwa sabar adalah hal yang wajib dilakukan tatkala tertimpa takdir yang terasa menyakitkan. Dengan hal itu beliau juga ingin memberikan penegasan bahwa bersabar dalam rangka menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan hukumnya juga wajib.
Secara bahasa sabar artinya tertahan. Orang Arab mengatakan, “Qutila fulan shabran” (artinya si polan dibunuh dalam keadaan “shabr”) yaitu tatkala dia berada dalam tahanan atau sedang diikat lalu dibunuh, tanpa ada perlawanan atau peperangan. Dan demikianlah inti makna kesabaran yang dipakai dalam pengertian syar’i.
Ia disebut sebagai sabar karena di dalamnya terkandung penahanan lisan untuk tidak berkeluh kesah, menahan hati untuk tidak merasa marah dan menahan anggota badan untuk tidak mengekspresikan kemarahan dalam bentuk menampar-nampar pipi, merobek-robek kain dan semacamnya. Maka menurut istilah syari’at sabar artinya: Menahan lisan dari mengeluh, menahan hati dari marah dan menahan anggota badan dari menampakkan kemarahan dengan cara merobek-robek sesuatu dan tindakan lain semacamnya.
Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Di dalam al-Qur’an kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih. Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan”
Perkataan beliau “Bab Minal imaan, ash shabru ‘ala aqdaarillah” artinya: salah satu ciri karakteristik iman kepada Allah adalah bersabar tatkala menghadapi takdir-takdir Allah. Keimanan itu mempunyai cabang-cabang. Sebagaimana kekufuran juga bercabang-cabang.
Maka dengan perkataan “Minal imaan ash shabru” beliau ingin memberikan penegasan bahwa sabar termasuk salah satu cabang keimanan. Beliau juga memberikan penegasan melalui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yang menunjukkan bahwa niyaahah (meratapi mayit) itu juga termasuk salah satu cabang kekufuran. Sehingga setiap cabang kekafiran itu harus dihadapi dengan cabang keimanan. Meratapi mayit adalah sebuah cabang kekafiran maka dia harus dihadapi dengan sebuah cabang keimanan yaitu bersabar terhadap takdir Allah yang terasa menyakitkan” (At Tamhiid, hal.389-391)
-bersambung insya Allah-
***
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Sumber muslima.or.id
Sumber muslima.or.id
Kenalan ... Kenalann
Assalamu'alaykum Wr.Wb..
Yeeeeaaahh... akhirnya setelah 23 tahun lebih 3 minggu gw napas di pulau Jawa ini, gw beraniin diri buat blog juga.. buat gw untuk mempublikasikan sesuatu entah terkait jati diri maupun sumber - sumber diluar itu berat dan tanggungjawabnya ampun ampunan deh.. setelah mendekam dalam kamar berhari hari nyari wangsit akhirnya gw mantep bikin blog #lebay...
Yup Just Wanna Share About Me..
Nama gw Yeni Yusniawati, gw biasa dipanggil Nia, entah kenapa gw lebih nyaman dipanggil Nia daripada Yeni atau WATI, ya ampun kalo boleh jujur kenapa dibelakang nama gw harus ada kata WATI ya ? tapi tak apa lah rangkaian nama gw udah pasti terselip doa dan harapan orang tua buat gw.. hehehe :) . Lanjut.. gw lahir di Jakarta hari Rabu jam 20.30 tanggal 26 Desember 23 tahun yang lalu. Gw anak ketiga dari 4 bersaudara. Kakak gw seorang guru TK dan adik gw masih duduk di kelas 2 SMK , sedangkan kakak laki - laki gw tercinta udah meninggal pas gw baru berumur 1 tahun :(
Btw.. diantara gw , kakak dan adik gw.. gw lah yang kelihatan paling muuaannjaaa sama nyokap, ga tau kenapa apapun yang gw alamin nyokaplah sosok kedua setelah ALLAH yang selalu bikin gw adem hati. kalo gw lagi galau ( capcay deeh ) gw selalu lari ke kamar nyokap n minta tidur bareng sama Beliau, minta diusapin rambut gw, sampe gw pules tidur n melupakan sejenak segala kegalauan yang gw rasa. hehehehehehehe
Oia kenapa gw akhirnya beraniin diri buat blog ? hhhmmm ga tau ya.. gw pengen share sesuatu aja disini.. cape juga soalnya kalo harus share di buku diary.. ujung-ujungnya buku diary gw ilang.
Yah begitulah..
mungkin di awal-awal belum ada sesuatu yang menarik untuk dibahas, tapi Insya Allah gw bakal share semuanya di blog ini.
Demikian dan hatur nuhuuunn
-NIA-
Langganan:
Postingan (Atom)

