Jumat, 10 Januari 2014

Wanita Dalam Islam :)

PERANAN WANITA DAN KEBANGKITAN UMMAT ISLAM MASA KINI
Penulis : Dr. Yusuf Al-Qardhawi
 
PERTANYAAN
 
Apakah benar ada masa kebangkitan bagi ummat Islam?
 
Jika ada, bagaimana peranan wanita dalam Islam  secara  umum
dan   pandangan   terhadap  wanita  karier,  dan  bagi  yang
berpendidikan tinggi pada khususnya?
 
JAWAB
 
Tidak dapat diragukan  lagi,  bahwa  kita  hidup  dalam  era
kebangkitan  Islam, setelah sekian lama kaum Muslimin berada
dalam keadaan tidak sadar  dan  lelap  dalam  tidurnya  yang
berkepanjangan,    seperti   halnya   kaum   Kahfi,   dimana
musuh-musuh mereka mengintervensi dari Barat, Timur, Selatan
dan  Utara.  Kemudian  menjajah  dan  menguasainya, sehingga
dengan mudah menjatuhkan mereka dari agamanya, yaitu  Islam.
Lalu   diganti   secara   paksa   peraturan-peraturan  baru,
hukum-hukum baru, baik dalam masalah politik maupun sosial.
 
Hal-hal yang demikian itu terjadi pada  saat  kaum  Muslimin
dalam   keadaan  tidak  sadar.  Kemudian  berkat  perjuangan
ahli-ahli fiqih dan dakwah, maka terjadilah pembaruan  untuk
membangun pusat dakwah Islamiah dan perorangan di mana-mana.
 
Dengan  takdir  Allah,  maka  terjadilah  kebangkitan  ummat
Islam. Hal ini sudah  biasa  bagi  ummat  Islam  dan  sesuai
dengan  sifatnya,  bahwa  ummat  Islam  tidak  mungkin  mati
selamanya, tanpa  bangkit  kembali.  Karenanya,  agama  yang
hidup  mengharuskan  ummatnya  hidup;  dan  Allah swt. dalam
setiap  masa  selalu  mengangkat  seseorang,  untuk  membawa
keharuman agama bagi ummatnya.
 
Dalam  setiap  masa  selalu  timbul  di  tengah-tengah ummat
Islam, orang-orang  yang  membela  kebenaran,  walau  bahaya
menentangnya,  sampai  datangnya hari Kiamat. Maka dari itu,
keluarlah  suara-suara  untuk  mengajak  bagi  ditegakkannya
kebenaran  dan dipraktekkannya agama Islam secara utuh serta
pembaruan, sebagaimana dapat dirasakan seperti sekarang ini.
 
Sebenarnya, kebangkitan ini meliputi semua  aspek.  Sebagian
orang  mengira  di  saat  permulaan  hanya  suara  saja yang
timbul, disebabkan oleh  perasaan  dan  semangat.  Sementara
kenyataan  menjadi  sebaliknya,  setiap waktu bertambah kuat
semangat yang menyala, perasaan yang hidup  dalam  kesadaran
pada  agama  tersebut,  dan  kebangkitan berdasarkan pikiran
yang sehat, setelah  lama  hidup  jauh  dari  kemurnian  dan
kebenarannya.  Sadar  akan  akibat dan keadilannya di segala
bidang.
 
Sungguh telah berubah  semua  perasaan  dan  simpatik,  yang
dulunya   di   bawah   naungan   gerakan   Nasionalisme  dan
Sosialisme,   serta   lain-lainnya,   dari    aliran    yang
bertentangaan   dengan  agama.  Maka,  pikiran-pikiran  yang
semula dipengaruhi oleh  paham-paham  yang  bukan  bersumber
pada  Islam, karena belum paham terhadap Islam, sekarang ini
mereka sadar akan kebenaran dan kemurnian dari ajaran Islam.
Mereka  paham  bahwa  Islam  itu  bukan  ibadat saja, tetapi
menyangkut  segi  akidah,  akhlak   yang   luhur,   muamalah
(jual-beli) yang baik, dan hukum-hukum yang telah ditetapkan
Allah. Bahkan Islam itu adalah amanat dan risalah yang dapat
mengatur kehidupan manusia sebelum lahirnya manusia, sesudah
lahir, ketika masih berupa janin, di waktu hidup dan  ketika
mati. Begitu juga di waktu bangkit kembali.
 
Kcbangkitan  ini  termasuk  kebangkitan berpikir. Kita telah
melihat buku-buku yang telah ditulis  oleh  ahli-ahli  pikir
dan  penulis-penulis  terkenal.  Di  mana-mana,  terutama di
perpustakaan, penuh dengan bermacam-macam buku  yang  dibaca
para  generasi  muda  Islam,  mulai  dari yang berpendidikan
rendah   sampai   yang    berpendidikan    tinggi,    mereka
mempelajarinya secara mendalam.
 
Adapun masa kemunduran dan bekunya pikiran adalah disebabkan
oleh banyak hal, diantaranya ialah:
 
Pada  masa  itu  banyak  pikiran-pikiran  yang  condong  dan
menganggap harus ikut peradaban Barat di segala bidang.
 
Tiada jalan bagi kemajuan, kecuali mengambil peradaban Barat
secara keseluruhan, baik, buruk, pahit dan  manis.  Sehingga
para   simpatisan   giat   mencari  dalil  untuk  menguatkan
kedudukan dan peradaban orang  asing;  bahkan  hal-hal  yang
tidak  sesuai  dengan  peraturan mereka, dicela dan dianggap
tidak sempurna, misalnya dalam masalah talak, riba, poligami
dan sebagainya.
 
Sekarang  ini  lain  halnya,  semua  masalah dihadapi dengan
bahasa ilmiah dan pikiran yang sehat, walaupun mereka  dalam
masa  kemajuan telah mencapai bulan dan dengan mudah manusia
dapat menikmati hidup yang mewah, tetapi mereka gagal  dalam
membina   ketenangan  jiwanya.  Mereka  hanya  memperhatikan
sarana bagi sesuatu, tetapi mereka mengabaikan tujuan  luhur
dari kehidupan ini, dan itu hanya bisa diarahkan oleh Islam.
 
MASALAH YANG TIDAK DAPAT DIJAWAB
 
Peradaban  masyarakat  Barat tidak dapat menjawab pertanyaan
berikut ini: Untuk apakah manusia ini hidup, dari  mana  dan
hendak ke mana mereka pergi?
 
Peradaban   Barat   tidak   dapat  memberi  kebahagiaan  dan
kesejahteraan bagi manusia. Maka Islamlah satu-satunya agama
alternatif    yang   dapat   mengungkapkan   kelemahan   dan
ketidakmampuan mereka dalam menghadapi  tantangan  kehidupan
yang  menuju  ke  arah  kesejahteraan  di  dunia  maupun  di
akhirat. Islamlah yang dapat menjawab dan  memecahkan  semua
permasalahan, baik masalah politik, sosial dan lainnya.
 
PERANAN KAUM INTELEKTUAL
 
Perhatian  akan  masalah-masalah  Islam  tidak saja terbatas
kepada orang-orang berusia lanjut, bahkan tampak lebih besar
perhatian   semangatnya   di   kalangan   para  pelajar  dan
ilmuwannya,  baik  laki-laki  maupun  wanita.  Mereka   giat
mempelajari  masalah-masalah  Islam  dan mempraktekkannya di
masjid dan tempat-tempat ibadat lainnya yang selalu dipenuhi
oleh segenap lapisan ummat Islam.
 
PERANAN WANITA
 
Jika  kita  membaca Al-Qur'an, maka dapat kita ketahui bahwa
penciptaan Nabi Adam as. bersamaan  dengan  ibu  Hawa,  yang
berfungsi sebagai istri dan kawan hidup beliau.
 
Kita  mengetahui  kisah  istri  Fir'aun, yang dapat mencegah
Fir'aun  dalam  niatnya  untuk  membunuh   Nabi   Musa   as.
Sebagaimana tercantum dalam firman Allah swt.:
 
  "Dan berkatalah istri Fir'aun, '(Ia) biji mata
  bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya,
  mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita
  pungut menjadi anak, sedangkan mereka tidak
  mzenyadari." (Q.s. Al-Qashash: 9).
 
Kita  simak  kisah  dimana  ada  dua  wanita di kota Madyan,
keduanya putri Asy-Syekh Al-Kabir,  yang  diberi  air  minum
oleh   Nabi   Musa   as.   Kemudian  kedua  wanita  tersebut
mengusulkan kepada ayahnya, supaya memberi pekerjaan  kepada
Nabi   Musa   as.   karena  beliau  memiliki  amanat  (dapat
dipercaya) dan fisiknya kuat. Sebagaimana yang tertera dalam
firman Allah swt.:
 
  "Salah seorang dari kedua wanita itu berkata,
  'Wahai Bapakku, ambillah dia sebagai orang yang
  bekerja (kepada kita), karena sesungguhnya orang
  yang terbaik, yang kamu ambil untuk bekerja
  (kepada kita) ialah orang yang kuat dan dapat
  dipercaya'." (Q.s. Al-Qashash: 26).
 
Kita  simak  lagi  kisah  ratu  Balqis di negeri Yaman, yang
terkenal adil dan memiliki jiwa demokrasi. Ratu ini  setelah
menerima  surat  dari  Nabi  Sulaiman as. yang isinya seruan
untuk taat kepada Allah dan menyembah kepada-Nya,  lalu  dia
meminta  pendapat  kepada  kaumnya  dan  bermusyawarah untuk
mengambil sebuah putusan bersama.
 
Firman Allah swt.:
 
  "Berkata dia (Balqis), 'Hai para pembesar, berilah
  aku pertimbangan dalam urusanku (ini), aku tidak
  pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu
  berada dalam majelis(ku).'
 
Mereka menjawab,  'Kita  adalah  orang-orang  yang  memiliki
kekuatan  dan  (juga)  memiliki  keberanian  yang luar hiasa
(dalam peperangan), dan keputusan berada di  tanganmu;  maka
pertimbangkanlah   yang   akan   kamu  perintahkan'."  (Q.s.
An-Naml: 32-3).
 
Kemudian dia berkata,  sebagaimana  yang  telah  difirmankan
Allah swt.:
 
  "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu
  negeri niscaya mereka membinasakannya, dan
  menjadikan penduduknya yang terhormat jadi hina;
  dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat."
  (Q.s. An-Naml: 34).
 
Kesimpulan   dari   pendapat   ratu   tersebut  ialah  bahwa
penguasa-penguasa di dunia ini jika mereka hendak  menguasai
suatu  negeri,  maka  mereka  akan  merusak  dua  hal, yaitu
merusak negara dan moral penduduknya.
 
Oleh  karena  itu,  di  dalam  Al-Qur'an  telah   disebutkan
nama-nama wanita selain wanita-wanita yang tersebut di atas,
yang  ada   hubungannya   dengan   kisahnya   masing-masing.
Misalnya, ibu Nabi Isa as, Maryam Al-Batul.
 
PERANAN WANITA PADA MASA NABI MUHAMMAD SAW.
 
Adapun  peranan wanita pada masa hidupnya Nabi Muhammad saw.
yang kita kenal ialah yang memelihara Nabi saw, yaitu Aminah
ibu  beliau;  yang menyusuinya, Halima As-Sa'diyah; dan yang
menjadi hadina (pengasuh) bagi beliau, Ummu Aiman r.a.  dari
Habasyah.
 
Nabi  saw.  telah  bersabda, "Bahwa dia adalah ibuku setelah
ibuku sendiri."
 
Kemudian kita  kenal  Siti  Khadijah  binti  Khuwailid  r.a,
wanita  pertama  yang  beriman dan membantunya, Siti Aisyah,
Ummu Salamah, dan lain-lainnya,  dari  Ummahaatul  Mukmtniin
(ibu  dari  kaum  Mukmin), istri-istri Nabi, dan istri-istri
para sahabat Rasulullah saw.
 
AKTIVITAS WANITA MASA KINI
 
Sebenarnya, usaha (kiprah) kaum wanita cukup  luas  meliputi
berbagai  bidang,  terutama  yang berhubungan dengan dirinya
sendiri, yang diselaraskan dengan Islam, dalam segi  akidah,
akhlak dan masalah yang tidak menyimpang dari apa yang sudah
digariskan atau ditetapkan oleh Islam.
 
Wanita  Muslimat  mempunyai   kewajiban   untuk   memperkuat
hubungannya   dengan  Allah  dan  menyucikan  pikiran  serta
wataknya dari sisa-sisa pengaruh pikiran Barat.
 
Harus mengetahui cara menangkis serangan-serangan  kebatilan
dan syubuhat terhadap Islam.
 
Harus     diketahui     dan     disadari     hal-hal    yang
melatarbelakanginya, mengapa dia harus menerima separuh dari
bagian  yang  diterima oleh kaum laki-laki dalam masalah hak
waris? Mengapa saksi seorang  wanita  itu  dianggap  separuh
dari  laki-laki?  Juga  harus  memahami hakikatnya, sehingga
iman  dan  Islamnya  bersih,  tiada   keraguan   lagi   yang
menyelimuti benak dan pikirannya.
 
Dia harus menjalankan secara keseluruhan mengenai akhlak dan
perilakunya, sesuai  dengan  yang  dikehendaki  oleh  Islam.
Tidak  boleh  terpengaruh  oleh  sikap  dan  perilaku wanita
non-Muslim atau berpaham Barat.  Karena  mereka  bebas  dari
pikiran  dan  peraturan-peraturan  sebagaimana yang ada pada
agama Islam. Mereka tidak terikat  pada  perkara  halal  dan
haram, baik dan buruk.
 
Banyak  diantara kaum wanita yang meniru mereka secara buta,
misalnya memanjangkan kuku yang  menyerupai  binatang  buas,
pakaian  mini,  tipis (transparan), atau setengah telanjang,
dan sebagainya. Cara yang demikian itu adalah  meniru  orang
yang buta akan hal-hal terlarang.
 
Nabi saw. telah bersabda:
 
  "Janganlah kamu menjadi orang yang tidak mempunyai
  pendirian dan berkata, 'Aku ikut saja seperti
  orang-orang itu. Jika mereka baik, aku pun baik;
  jika mereka jahat, aku pun jadi jahat.' Tetapi
  teguhkan hatimu dengan keputusan bahwa jika
  orang-orang melakukan kebaikan, maka aku akan
  mengerjakannya; dan jika orang-orang melakukan
  kejahatan, maka aku tidak akan mengerjakan."
 
PERANAN WANITA DALAM KELUARGANYA
 
Di  dalam  Al-Qur'an  telah  ditetapkan, semua penetapan dan
perintah ditujukan kepada kedua pihak, laki-laki dan wanita,
kecuali  yang  khusus  bagi  salah satu dari keduanya. Maka,
kewajiban  bagi  kaum  wanita  di  dalam  keluarganya  ialah
menjalankan apa yang diwajibkan baginya.
 
Jika dia sebagai anak, kemudian kedua orangtuanya atau salah
satunya menyimpang dari batas  yang  telah  ditentukan  oleh
agama,  maka dengan cara yang sopan dan bijaksana, dia harus
mengajak kedua orangtuanya kembali ke jalan yang baik,  yang
telah  menjadi  tujuan  agama,  disamping  tetap menghormati
kedua orangtua.
 
Wajib  bagi  setiap  wanita  (para  istri),  yaitu  membantu
suaminya  dalam  menjalankan  perintah agama, mencari rezeki
yang halal, menerima dan mensyukuri yang dimilikinya  dengan
penuh kesabaran, dan sebagainya.
 
Wajib  pula  bagi  setiap  ibu,  mengajar  anak-anaknya taat
kepada  Allah,  yakni  dengan  menjauhi   larangan-Nya   dan
menjalankan    perintah-Nya,   serta   taat   kepada   kedua
orangtuanya.
 
Kewajiban bagi setiap wanita  terhadap  kawan-kawannya  yang
seagama,  yaitu  menganjurkan  untuk membersihkan akidah dan
tauhidnya dari pengaruh di luar Islam; menjauhi  paham-paham
yang  bersifat  merusak  dan menghancurkan sendi-sendi Islam
dan  akhlak  yang  luhur,  yang  diterimanya  melalui  buku,
majalah, film, dan sebagainya.
 
Dengan   adanya   tindakan-tindakan   di  luar  Islam,  yang
ditimbulkan oleh sebagian kaum Muslimin terhadap wanita yang
kurang bijaksana dan insaf, maka hal inilah yang menyebabkan
terpengaruhnya   mereka    pada    peradaban    Barat    dan
paham-pahamnya.
 
Harus  diakui,  bahwa  hak-hak wanita di sebagian masyarakat
Islam belum diberikan secara penuh.
 
Harus diketahui pula, bahwa suara pertama dari  kaum  wanita
dalam  menguatkan  dakwah  dan  risalah  Muhammad saw. ialah
suara Khadijah binti Khuwailid r.a. kepada Rasulullah saw.:
 
  "Demi Allah, Tuhan tidak akan mengecewakan engkau
  sama sekali. Sesungguhnya engkau bersilaturrahmi,
  menghubungi keluarga dan mengangkat beban berat,
  memberi kepada orang yang tidak punya, menerima
  dan memberi (menghormati) kepada tamu, serta
  menolong orang-orang yang menderita."
 
Orang pertama yang berperan sebagai syuhada ialah  Ummu  Amr
binti  Yasir  Ibnu  Amar  yang  bernama  Samiah, dia bersama
suaminya disiksa,  agar  mereka  keluar  dari  agama  Islam.
Tetapi  mereka  tetap  bertahan dan sabar, sehingga dia mati
syahid bersama suaminya.
 
Ketika Rasulullah saw. melintasi mereka, dan melihat  mereka
dalam  keadaan disiksa, lalu Rasulullah saw. berkata kepada
mereka, "Sabarlah wahai Al-Yasir,  sesungguhnya  kita  nanti
akan bertemu di surga."

**Artikel ini merupakan artikel lepas yang ditulis
oleh Dr. Yusuf Al-Qardhawi. Dikutip dari Majalah "Al-Ummah,"
no.  66,  Pebruari  1986,  hlm.  40-5. Dimuatnya artikel ini
menurut hemat kami amat layak. (Penerjemah).

sumber http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Fatawa/PerananWanita.html

Lagu Astrid " Terpukau "

Aku memang belum beruntung
Untuk menjatuhkan hatimu
Aku masih belum beruntung
Namun tinggi harapanku
Tuk hidup berdua denganmu
Aku sempurna denganmu
Ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat aku terpukau
Aku sungguh sangat bermimpi
Untuk mendampingi hatimu
Ku masih terus bermimpi
Sangat besar harapanku
Tuk hidup berdua denganmu
Aku sempurna denganmu
Ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat aku terpukau
Denganmu aku sempurna
Denganmu ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat
Denganmu aku sempurna
Denganmu ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat aku terpukau
------------------------------------------------------------------
lagu indonesia yang cukup keren dan sejuk kalo gw denger.. dengerin lagu ini sambil pejamkan mata, terbayang .. ya benar-benar terbayang sesuatu entah akan bisa terulang lagi atau ga.. hahaha ngarep banget ya gw..
tapi yang jelas emang ni lagu menurut gw cukup berbobot dan punya prestasinya.. ga cuma lirik lagunya yg enak banget di denger tapi suara khas si penyanyi menyempurnakan lagu itu.. keren.. bener - bener keren.
Yah, gw harap penyanyi2 sekarang gak hanya jual tampang sama body yang ok.. tapi prestasi yg harus ditonjolkan seperti penyanyi-penyanyi zaman baheula.. seperti Nicky Astria , Nike Ardilla, sheila on 7, base jam, dan sebagainya .
yup.. sukses untuk Kak Astrid dan semoga lagu-lagu indonesia kita makin berjaya dan berkualitas di negara sendiri maupun internasional, jangan mau kalah yaa sama lagu - lagu barat dan korea :)
_Nia_

Kamis, 09 Januari 2014

HIJAB ITU KEWAJIBAN TIAP MUSLIMAH



Hijab itu Kewajiban Muslimah (termasuk) PolwanSaya kaget bukan kepalang tatkala mendapatkan satu tautan tentang pernyataan Wakapolri berkaitan dengan isu yang sedang hangat yaitu polwan berhijab; “Komjen Oegroseno: Polri Organisasi Resmi Negara, Bukan Arisan Ibu-ibu RT/RW”. Suatu pernyataan yang bukan hanya tendensius tapi juga sarat dengan olok-olokan terhadap perintah Allah dalam agama Islam yaitu agar setiap manusia menutupi auratnya termasuk Muslimah dengan pakaian penutup aurat.
Supaya adil dan tetap berbaik sangka, mari kita baca dua berita dari detik.com sebagaimana saya lampirkan dibawah ini
Jumat, 29/11/2013 19:52 WIB “Beredar Kabar Polri Larang Sementara Polwan Berjilbab”
Jakarta – Tersiar kabar adanya Telegram Rahasia (TR) yang berisi pelarangan sementara bagi Polwan yang ingin menggunakan jilbab. Kabar ini tentu bertolak belakang dengan pernyataan Kapolri Jenderal Sutarman yang mempersilakan Polwan untuk berjilbab.
Anggota Kompolnas Hamidah Abdurrahman menyatakan, kabar tersebut benar adanya. Namun Hamidah sendiri belum melihat langsung isi surat yang menyatakan Polwan untuk tidak dulu mengenakan jilbab sampai dengan keluar payung hukum yang mengatur mengenai itu.
“Yang menandatangani itu Pak Wakapolri,” kata Hamidah saat dihubungi wartawan, Jumat (29/11/2013).
Dari informasi yang diterimanya, isi surat menyatakan perlu diatur lebih lanjut mengenai pengenaan jilbab di lingkungan Polri. Surat tersebut disebar ke masing-masing Kapolda.
“Tentu sangat disayangkan, karena ini bertolak-belakang dengan pernyataan Kapolri sebelumnya yang mempersilakan Polwan mengenakan jilbab, Kapolri tidak konsisten,” katanya.
Dihubungi terpisah, Kadiv Humas Polri Irjen Ronny F Sompie membantah perihak surat larangan berjilbab tersebut. “Enggak ada larangan, itu kan hak asasi manusia,” ujar Ronny.
Meski belum ada aturan baku mengenai pengenaan jilbab, imbuh Ronny, para Polwan tersebut secara aturan berjilbab diharapkan mengacu kepada peraturan berjilbab di Aceh

Minggu, 01/12/2013 11:00 WIB “Penundaan Jilbab Bagi Polwan; Komjen Oegroseno: Polri Organisasi Resmi Negara, Bukan Arisan Ibu-ibu RT/RW”
Jakarta – Wakil Kapolri Komjen Oegroseno tegas menyatakan penundaan penggunaan jilbab di kalangan Polwan hingga ada payung hukum yang mengatur hal tersebut. Penundaan itu dikarenakan polisi merupakan organisasi resmi negara.
“Polri itu organisasi resmi negara, bukan organisasi arisan ibu-ibu RT/RW,” ujar Oegro saat dihubungi detikcom, Minggu (1/12/2013).
Bukankah bisa mengacu pada tata cara penggunaan jilbab di Polda Aceh yang sudah lama berlaku? “Mengacu pun itu juga harus pakai peraturan Kapolri (Perkap),” jawab Oegro.
Komjen Oegro membandingkan peraturan tersebut dengan aturan-aturan lain yang mengikat setiap personel Polri.
“Sama dengan anggota Polri boleh bersenjata api, apakah anggota Polri diizinkan beli senjata sendiri dan menyimpan sendiri?” tanya Oegro.
“Kan harus ada aturan yang mengatur, yaitu peraturan Kapolri,” imbuhnya.
Komjen Oegroseno membenarkan pihaknya mengeluarkan surat edaran terkait penggunaan jilbab di kalangan Polwan. Surat tersebut berisi mengenai ketentuan penggunaan jilbab nanti di lingkungan kepolisian.
Sebagaimana yang kita ketahui, Polri memang sebuah lembaga negara, dan memang memiliki aturan tersendiri namun yang perlu kita pertanyakan pertama-tama adalah apakah lantas aturan yang Polri itu layak diutamakan dan layak didahulukan daripada aturan Allah Swt?
Semua Muslim jelas mengakui bahwa Allah itu yang menciptkan alam semesta termasuk manusia, lalu memerintahkan semua manusia agar menyembah kepada-Nya secara penuh, karena kepada-Nya setiap jiwa akan dikembalikan dan diminta pertanggungjawaban atas semua perbuatannya di dunia.
Maka Allah pun menurunkan aturan bagaimana cara menyembah-Nya di dunia, dan aturan inilah yang layak diutamakan dan didahulukan, bahkan menjadi landasan dan dasar pertimbangan bagi aturan-aturan teknis lainnya yang dibuat manusia untuk tidak menyimpang apalagi menyalahi dari aturan Allah.
Allah sendiri telah mengatur ketentuan hijab atau penutup aurat dengan jelas bagi Muslimah (tanpa terkecuali polisi wanita) pada QS 24:31 dan QS 33:59. Dan dipertegas dengan hijan kelakuan pada QS 33:33. Semua ulama salaf dari dulu hingga sekarang tidak ada yang berbeda pendapat tentang ketentuan hijab yang diambil dari kitab suci Al-Qur’an. Kitab yang diimani oleh mayoritas rakyat Indonesia termasuk kepolisian tentunya.
Tidak lantas karena Polri adalah lembaga resmi negara, lalu Polri boleh mengharamkan yang sudah dihalalkan oleh Allah atau bahkan melarang yang sudah Allah perintahkan kepada hamba-Nya.
Mengenai aturan teknis tentu saja itu kewenangan Polri dan bisa dibicarakan dibelakang, namun tidak dengan pelarangan dengan alasan belum ada peraturan atau payung hukum yang mengaturnya.
Apakah lantas ketika belum ada ketentuan Polri tentang shalat (yang juga sama wajibnya seperti hijab), lantas polisi-polisi harus menunda shalatnya? Tentu tidak.
Yang kedua, bukankah ketika seorang polisi lalu diapun bertakwa kepada Allah Tuhannya lantas dia akan semakin menjalankan tugasnya dengan baik? Karena bukan hanya manusia yang lemah dan terbatas sebagai pengawasnya, namun Allah Yang Maha Tahu dan Selalu Terjaga itulah yang mengawasinya. Nilai pekerjaannya pun menjadi ganda, mengamankan di dunia, dan diapun aman di akhirat.
Tentu jika seorang polisi lelaki maupun wanita dia menaati Allah, maka akan semakin aman tenteram negeri kita ini. Polisi akan jauh dari pandangan manusia yang negatif semisal suap, main hakim sendiri, menyulitkan dan arogan. Saya secara pribadi mengenal polisi-polisi yang salih dan taat dan itu sangat membentuk citra positif terhadap kepolisian.
Yang ketiga, bilapun Polri masih terbentur ketentuan hukum dan menunggu payung yang menjadi dasar administratif dari aturan berhijab tersebut, tidak perlu kiranya mengeluarkan pernyataan-pernyataan resmi dari petinggi Polri yang bisa menimbulkan keresahan pada ummat Islam, apalagi pernyataan yang terkesan mengolok-olok aturan Allah seperti “Polri itu organisasi resmi negara, bukan organisasi arisan ibu-ibu RT/RW”.
Apakah lantas yang dimaksud Wakapolri, hanya ibu-ibu arisan yang wajib menggunakan hijab? Atau malah memandang organisasi Polri lebih hebat dan lebih mulia dari arisan ibu-ibu RT/RW? MasyaAllah semoga Wakapolri selalu dijauhkan Allah dari sifat arogan dalam berlisan dan bertindak.
Sebagai rakyat biasa tentu kita mengharapkan kebijakan-kebijakan petinggi negara yang lebih bajik lagi dalam memandang satu hal, lebih memperhatikan bahwa kita bukan hanya manusia yang hanya hidup di dunia namun juga akan mempertanggungjawabkan semua yang kita punya pada Allah Swt.
Kita juga menghimbau kepada Polri untuk memberikan pengawasan ekstra pada pernyataan-pernyataan yang mengusik ketenangan dan memancing keburukan. Karena sebagaimana yang kita ketahui pada awal-awal isu hijab polwan di bulan Juni 2013 ini, Wakapolri (Nanan Soekarna) juga sempat mengeluarkan pernyataan “Aturan di kepolisian memang tidak boleh berjilbab,” lalu dilanjutkan “Kalau keberatan sebetulnya ya silakan, tidak jadi polwan”.
Keempat, mengenai busana Polri agar tidak makin seksi. Alhamdulillah, inilah yang pernyataan yang baik lagi sesuai dengan Islam. Sebagaimana kami kutipkan dari tempo.co/read/news/2013/12/02/063533889/Oegroseno-Jangan-Sampai-Jilbab-Lebih-Seksi
“Akhirnya dengan Irwasum memutuskan ditunda dulu. Jangan sampai menggunakan jilbab lebih seksi,” ujar Oegroseno dalam perayaan Ulang Tahun Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara, Senin, 2 Desember 2013.
Wakapolri Oegroseno berpendapat, model baju muslim lebih cocok digunakan ketimbang hanya jilbab namun bajunya masih ketat. “Nanti malah menimbulkan nafsu-nafsu tertentu,”
Begitulah seharusnya hijab syar’i, tidak ketat dan tidak transparan, karena sudah ada ketentuan-ketentuan dari Allah yang menjadi pembatas. Kita tentu mengapresiasi hal ini dan saya siap membantu seandainya Polri memerlukan konsultasi mengenai hijab syar’i yang bisa diaplikasikan di kepolisian.
Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi saya selaku hamba Allah yang masih jauh dari kebaikan-kebaikan yang Allah perintahkan. Juga sebagai tanda peduli saya pada kepolisian Indonesia, juga sebagai kewajiban saya sbagai seorang Muslim untuk menyampaikan Islam.
Kita doakan pula dengan tulus semoga Kapolri menuntaskan niat baiknya mengizinkan polwan untuk berhijab karena tidak pantas manusia melarang apa yang sudah diizinkan dan diwajibkan oleh AllahSwt. Pada Allah kita berserah dan kita mendoakan selalu agar polisi-polisi kita diberikan Allah kebaikan dan kemudahan dalam menaati-Nya
Akhukum @felixsiauw

Rabu, 08 Januari 2014

YKS .. YUK KITA SABAR


Hakikat Sabar (1)



Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)

Pengertian Sabar

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Macam-Macam Sabar

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:
  1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
  2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah
  3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Sebab Meraih Kemuliaan

Di dalam Taisir Lathifil Mannaan Syaikh As Sa’di rahimahullah menyebutkan sebab-sebab untuk menggapai berbagai cita-cita yang tinggi. Beliau menyebutkan bahwa sebab terbesar untuk bisa meraih itu semua adalah iman dan amal shalih.
Di samping itu, ada sebab-sebab lain yang merupakan bagian dari kedua perkara ini. Di antaranya adalah kesabaran. Sabar adalah sebab untuk bisa mendapatkan berbagai kebaikan dan menolak berbagai keburukan. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah ta’ala“Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah [2]: 45).
Yaitu mintalah pertolongan kepada Allah dengan bekal sabar dan shalat dalam menangani semua urusan kalian. Begitu pula sabar menjadi sebab hamba bisa meraih kenikmatan abadi yaitu surga. Allah ta’ala berfirman kepada penduduk surga, “Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.”(QS. Ar Ra’d [13] : 24).
Allah juga berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan kedudukan-kedudukan tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran mereka.” (QS. Al Furqaan [25] : 75).
Selain itu Allah pun menjadikan sabar dan yakin sebagai sebab untuk mencapai kedudukan tertinggi yaitu kepemimpinan dalam hal agama. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala“Dan Kami menjadikan di antara mereka (Bani Isra’il) para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan titah Kami, karena mereka mau bersabar dan meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah [32]: 24) (Lihat Taisir Lathifil Mannaan, hal. 375)

Sabar Dalam Ketaatan

Sabar Dalam Menuntut Ilmu
Syaikh Nu’man mengatakan, “Betapa banyak gangguan yang harus dihadapi oleh seseorang yang berusaha menuntut ilmu. Maka dia harus bersabar untuk menahan rasa lapar, kekurangan harta, jauh dari keluarga dan tanah airnya. Sehingga dia harus bersabar dalam upaya menimba ilmu dengan cara menghadiri pengajian-pengajian, mencatat dan memperhatikan penjelasan serta mengulang-ulang pelajaran dan lain sebagainya.
Semoga Allah merahmati Yahya bin Abi Katsir yang pernah mengatakan, “Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan banyak mengistirahatkan badan”, sebagaimana tercantum dalam shahih Imam Muslim. Terkadang seseorang harus menerima gangguan dari orang-orang yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang hubungannya jauh darinya, hanya karena kegiatannya menuntut ilmu. Tidak ada yang bisa bertahan kecuali orang-orang yang mendapatkan anugerah ketegaran dari Allah.” (Taisirul wushul, hal. 12-13)
Sabar Dalam Mengamalkan Ilmu
Syaikh Nu’man mengatakan, “Dan orang yang ingin beramal dengan ilmunya juga harus bersabar dalam menghadapi gangguan yang ada di hadapannya. Apabila dia melaksanakan ibadah kepada Allah menuruti syari’at yang diajarkan Rasulullah niscaya akan ada ahlul bida’ wal ahwaa’ yang menghalangi di hadapannya, demikian pula orang-orang bodoh yang tidak kenal agama kecuali ajaran warisan nenek moyang mereka.
Sehingga gangguan berupa ucapan harus diterimanya, dan terkadang berbentuk gangguan fisik, bahkan terkadang dengan kedua-keduanya. Dan kita sekarang ini berada di zaman di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita, Dialah sebaik-baik penolong” (Taisirul wushul, hal. 13)
Sabar Dalam Berdakwah
Syaikh Nu’man mengatakan, “Begitu pula orang yang berdakwah mengajak kepada agama Allah harus bersabar menghadapi gangguan yang timbul karena sebab dakwahnya, karena di saat itu dia tengah menempati posisi sebagaimana para Rasul. Waraqah bin Naufal mengatakan kepada Nabi kitashallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah ada seorang pun yang datang dengan membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa melainkan pasti akan disakiti orang.”
Sehingga jika dia mengajak kepada tauhid didapatinya para da’i pengajak kesyirikan tegak di hadapannya, begitu pula para pengikut dan orang-orang yang mengenyangkan perut mereka dengan cara itu. Sedangkan apabila dia mengajak kepada ajaran As Sunnah maka akan ditemuinya para pembela bid’ah dan hawa nafsu. Begitu pula jika dia memerangi kemaksiatan dan berbagai kemungkaran niscaya akan ditemuinya para pemuja syahwat, kefasikan dan dosa besar serta orang-orang yang turut bergabung dengan kelompok mereka.
Mereka semua akan berusaha menghalang-halangi dakwahnya karena dia telah menghalangi mereka dari kesyirikan, bid’ah dan kemaksiatan yang selama ini mereka tekuni.” (Taisirul wushul, hal. 13-14)

Sabar dan Kemenangan

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Allah ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan sungguh telah didustakan para Rasul sebelummu, maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan terhadap mereka dan mereka juga disakiti sampai tibalah pertolongan Kami.” (QS. Al An’aam [6]: 34).
Semakin besar gangguan yang diterima niscaya semakin dekat pula datangnya kemenangan. Dan bukanlah pertolongan/kemenangan itu terbatas hanya pada saat seseorang (da’i) masih hidup saja sehingga dia bisa menyaksikan buah dakwahnya terwujud. Akan tetapi yang dimaksud pertolongan itu terkadang muncul di saat sesudah kematiannya. Yaitu ketika Allah menundukkan hati-hati umat manusia sehingga menerima dakwahnya serta berpegang teguh dengannya. Sesungguhnya hal itu termasuk pertolongan yang didapatkan oleh da’i ini meskipun dia sudah mati.
Maka wajib bagi para da’i untuk bersabar dalam melancarkan dakwahnya dan tetap konsisten dalam menjalankannya. Hendaknya dia bersabar dalam menjalani agama Allah yang sedang didakwahkannya dan juga hendaknya dia bersabar dalam menghadapi rintangan dan gangguan yang menghalangi dakwahnya. Lihatlah para Rasul shalawatullaahi wa salaamuhu ‘alaihim. Mereka juga disakiti dengan ucapan dan perbuatan sekaligus.
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Demikianlah, tidaklah ada seorang Rasul pun yang datang sebelum mereka melainkan mereka (kaumnya) mengatakan, ‘Dia adalah tukang sihir atau orang gila’.” (QS. Adz Dzariyaat [51]: 52). Begitu juga Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan demikianlah Kami menjadikan bagi setiap Nabi ada musuh yang berasal dari kalangan orang-orang pendosa.” (QS. Al Furqaan [25]: 31). Namun, hendaknya para da’i tabah dan bersabar dalam menghadapi itu semua…” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Sabar di atas Islam

Ingatlah bagaimana kisah Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu yang tetap berpegang teguh dengan Islam meskipun harus merasakan siksaan ditindih batu besar oleh majikannya di atas padang pasir yang panas (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122). Ingatlah bagaimana siksaan tidak berperikemanusiaan yang dialami oleh Ammar bin Yasir dan keluarganya. Ibunya Sumayyah disiksa dengan cara yang sangat keji sehingga mati sebagai muslimah pertama yang syahid di jalan Allah. (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122-123)
Lihatlah keteguhan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu yang dipaksa oleh ibunya untuk meninggalkan Islam sampai-sampai ibunya bersumpahmogok makan dan minum bahkan tidak mau mengajaknya bicara sampai mati. Namun dengan tegas Sa’ad bin Abi Waqqash mengatakan, “Wahai Ibu, demi Allah, andaikata ibu memiliki seratus nyawa kemudian satu persatu keluar, sedetikpun ananda tidak akan meninggalkan agama ini…” (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 133) Inilah akidah, inilah kekuatan iman, yang sanggup bertahan dan kokoh menjulang walaupun diterpa oleh berbagai badai dan topan kehidupan.
Saudaraku, ketahuilah sesungguhnya cobaan yang menimpa kita pada hari ini, baik yang berupa kehilangan harta, kehilangan jiwa dari saudara yang tercinta, kehilangan tempat tinggal atau kekurangan bahan makanan, itu semua jauh lebih ringan daripada cobaan yang dialami oleh salafush shalih dan para ulama pembela dakwah tauhid di masa silam.
Mereka disakiti, diperangi, didustakan, dituduh yang bukan-bukan, bahkan ada juga yang dikucilkan. Ada yang tertimpa kemiskinan harta, bahkan ada juga yang sampai meninggal di dalam penjara, namun sama sekali itu semua tidaklah menggoyahkan pilar keimanan mereka.
Ingatlah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai seorang muslim.” (QS. Ali ‘Imran [3] : 102).
Ingatlah juga janji Allah yang artinya, “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya akan Allah berikan jalan keluar dan Allah akan berikan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath Thalaq [65] : 2-3).
Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran. Bersama kesempitan pasti akan ada jalan keluar. Bersama kesusahan pasti akan ada kemudahan.” (HR. Abdu bin Humaid di dalam Musnadnya [636] (Lihat Durrah Salafiyah, hal. 148) dan Al Haakim dalam Mustadrak ‘ala Shahihain, III/624). (Syarh Arba’in Ibnu ‘Utsaimin, hal. 200)

Sabar Menjauhi Maksiat

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Bersabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah, sehingga dia berusaha menjauhi kemaksiatan, karena bahaya dunia, alam kubur dan akhirat siap menimpanya apabila dia melakukannya. Dan tidaklah umat-umat terdahulu binasa kecuali karena disebabkan kemaksiatan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam muhkam al-Qur’an.
Di antara mereka ada yang ditenggelamkan oleh Allah ke dalam lautan, ada pula yang binasa karena disambar petir, ada pula yang dimusnahkan dengan suara yang mengguntur, dan ada juga di antara mereka yang dibenamkan oleh Allah ke dalam perut bumi, dan ada juga di antara mereka yang di rubah bentuk fisiknya (dikutuk).”
Pentahqiq kitab tersebut memberikan catatan, “Syaikh memberikan isyarat terhadap sebuah ayat, “Maka masing-masing (mereka itu) kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al ‘Ankabuut [29] : 40).
“Bukankah itu semua terjadi hanya karena satu sebab saja yaitu maksiat kepada Allah tabaaraka wa ta’ala. Karena hak Allah adalah untuk ditaati tidak boleh didurhakai, maka kemaksiatan kepada Allah merupakan kejahatan yang sangat mungkar yang akan menimbulkan kemurkaan, kemarahan serta mengakibatkan turunnya siksa-Nya yang sangat pedih. Jadi, salah satu macam kesabaran adalah bersabar untuk menahan diri dari perbuatan maksiat kepada Allah. Janganlah mendekatinya.
Dan apabila seseorang sudah terlanjur terjatuh di dalamnya hendaklah dia segera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, meminta ampunan dan menyesalinya di hadapan Allah. Dan hendaknya dia mengikuti kejelekan-kejelekannya dengan berbuat kebaikan-kebaikan. Sebagaimana difirmankan Allah ‘azza wa jalla“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan kejelekan-kejelekan.” (QS. Huud [11] : 114). Dan juga sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam“Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya.” (HR. Ahmad, dll, dihasankan Al Albani dalam Misykatul Mashaabih 5043)…” (Thariqul wushul, hal. 15-17)

Sabar Menerima Takdir

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adalah Bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hamba-Nya. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya. Maka bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam semesta…” (Thariqul wushul, hal. 15-17)

Sabar dan Tauhid

Syaikh Al Imam Al Mujaddid Al Mushlih Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu ta’ala membuat sebuah bab di dalam Kitab Tauhid beliau yang berjudul, “Bab Minal iman billah, ash-shabru ‘ala aqdarillah” (Bab Bersabar dalam menghadapi takdir Allah termasuk cabang keimanan kepada Allah)
Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullahu ta’ala mengatakan dalam penjelasannya tentang bab yang sangat berfaedah ini, “Sabar tergolong perkara yang menempati kedudukan agung (di dalam agama). Ia termasuk salah satu bagian ibadah yang sangat mulia. Ia menempati relung-relung hati, gerak-gerik lisan dan tindakan anggota badan. Sedangkan hakikat penghambaan yang sejati tidak akan terealisasi tanpa kesabaran.
Hal ini dikarenakan ibadah merupakan perintah syari’at (untuk mengerjakan sesuatu), atau berupa larangan syari’at (untuk tidak mengerjakan sesuatu), atau bisa juga berupa ujian dalam bentuk musibah yang ditimpakan Allah kepada seorang hamba supaya dia mau bersabar ketika menghadapinya.
Hakikat penghambaan adalah tunduk melaksanakan perintah syari’at serta menjauhi larangan syari’at dan bersabar menghadapi musibah-musibah. Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh Allah jalla wa ‘ala untuk menempa hamba-hamba-Nya. Dengan demikian ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan melalui sarana keputusan takdir.
Adapun ujian dengan dibebani ajaran-ajaran agama adalah sebagaimana tercermin dalam firman Allah jalla wa ‘ala kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah hadits qudsi riwayat Muslim dari ‘Iyaadh bin Hamaar. Dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda“Allah ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengutusmu dalam rangka menguji dirimu. Dan Aku menguji (manusia) dengan dirimu’.”
Maka hakikat pengutusan Nabi ‘alaihish shalaatu was salaam adalah menjadi ujian. Sedangkan adanya ujian jelas membutuhkan sikap sabar dalam menghadapinya. Ujian yang ada dengan diutusnya beliau sebagai rasul ialah dengan bentuk perintah dan larangan.
Untuk melaksanakan berbagai kewajiban tentu saja dibutuhkan bekal kesabaran. Untuk meninggalkan berbagai larangan dibutuhkan bekal kesabaran. Begitu pula saat menghadapi keputusan takdir kauni (yang menyakitkan) tentu juga diperlukan bekal kesabaran. Oleh sebab itulah sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya sabar terbagi tiga; sabar dalam berbuat taat, sabar dalam menahan diri dari maksiat dan sabar tatkala menerima takdir Allah yang terasa menyakitkan.”
Karena amat sedikitnya dijumpai orang yang sanggup bersabar tatkala tertimpa musibah maka Syaikh pun membuat sebuah bab tersendiri, semoga Allah merahmati beliau. Hal itu beliau lakukan dalam rangka menjelaskan bahwasanya sabar termasuk bagian dari kesempurnaan tauhid. Sabar termasuk kewajiban yang harus ditunaikan oleh hamba, sehingga ia pun bersabar menanggung ketentuan takdir Allah.
Ungkapan rasa marah dan tak mau sabar itulah yang banyak muncul dalam diri orang-orang tatkala mereka mendapatkan ujian berupa ditimpakannya musibah. Dengan alasan itulah beliau membuat bab ini, untuk menerangkan bahwa sabar adalah hal yang wajib dilakukan tatkala tertimpa takdir yang terasa menyakitkan. Dengan hal itu beliau juga ingin memberikan penegasan bahwa bersabar dalam rangka menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan hukumnya juga wajib.
Secara bahasa sabar artinya tertahan. Orang Arab mengatakan, “Qutila fulan shabran” (artinya si polan dibunuh dalam keadaan “shabr”) yaitu tatkala dia berada dalam tahanan atau sedang diikat lalu dibunuh, tanpa ada perlawanan atau peperangan. Dan demikianlah inti makna kesabaran yang dipakai dalam pengertian syar’i.
Ia disebut sebagai sabar karena di dalamnya terkandung penahanan lisan untuk tidak berkeluh kesah, menahan hati untuk tidak merasa marah dan menahan anggota badan untuk tidak mengekspresikan kemarahan dalam bentuk menampar-nampar pipi, merobek-robek kain dan semacamnya. Maka menurut istilah syari’at sabar artinya: Menahan lisan dari mengeluh, menahan hati dari marah dan menahan anggota badan dari menampakkan kemarahan dengan cara merobek-robek sesuatu dan tindakan lain semacamnya.
Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Di dalam al-Qur’an kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih. Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan”
Perkataan beliau “Bab Minal imaan, ash shabru ‘ala aqdaarillah” artinya: salah satu ciri karakteristik iman kepada Allah adalah bersabar tatkala menghadapi takdir-takdir Allah. Keimanan itu mempunyai cabang-cabang. Sebagaimana kekufuran juga bercabang-cabang.
Maka dengan perkataan “Minal imaan ash shabru” beliau ingin memberikan penegasan bahwa sabar termasuk salah satu cabang keimanan. Beliau juga memberikan penegasan melalui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yang menunjukkan bahwa niyaahah (meratapi mayit) itu juga termasuk salah satu cabang kekufuran. Sehingga setiap cabang kekafiran itu harus dihadapi dengan cabang keimanan. Meratapi mayit adalah sebuah cabang kekafiran maka dia harus dihadapi dengan sebuah cabang keimanan yaitu bersabar terhadap takdir Allah yang terasa menyakitkan” (At Tamhiid, hal.389-391)
-bersambung insya Allah-
***
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Sumber muslima.or.id

Kenalan ... Kenalann

Assalamu'alaykum Wr.Wb..

Yeeeeaaahh... akhirnya setelah 23 tahun lebih 3 minggu gw napas di pulau Jawa ini, gw beraniin diri buat blog juga.. buat gw untuk mempublikasikan sesuatu entah terkait jati diri maupun sumber - sumber diluar itu berat dan tanggungjawabnya ampun ampunan deh.. setelah mendekam dalam kamar berhari hari nyari wangsit akhirnya gw mantep bikin blog #lebay...

Yup Just Wanna Share About Me..
Nama gw Yeni Yusniawati, gw biasa dipanggil Nia, entah kenapa gw lebih nyaman dipanggil Nia daripada Yeni atau WATI, ya ampun kalo boleh jujur kenapa dibelakang nama gw harus ada kata WATI ya ? tapi tak apa lah rangkaian nama gw udah pasti terselip doa dan harapan orang tua buat gw.. hehehe :) . Lanjut.. gw lahir di Jakarta hari Rabu jam 20.30 tanggal 26 Desember 23 tahun yang lalu. Gw anak ketiga dari 4 bersaudara. Kakak gw seorang guru TK dan adik gw masih duduk di kelas 2 SMK , sedangkan kakak laki - laki gw tercinta udah meninggal pas gw baru berumur 1 tahun :(
Btw.. diantara gw , kakak dan adik gw.. gw lah yang kelihatan paling muuaannjaaa sama nyokap, ga tau kenapa apapun yang gw alamin nyokaplah sosok kedua setelah ALLAH yang selalu bikin gw adem hati. kalo gw lagi galau ( capcay deeh ) gw selalu lari ke kamar nyokap n minta tidur bareng sama Beliau, minta diusapin rambut gw, sampe gw pules tidur n melupakan sejenak segala kegalauan yang gw rasa. hehehehehehehe

Oia kenapa gw akhirnya beraniin diri buat blog ? hhhmmm ga tau ya.. gw pengen share sesuatu aja disini.. cape juga soalnya kalo harus share di buku diary.. ujung-ujungnya buku diary gw ilang.
Yah begitulah..
mungkin di awal-awal belum ada sesuatu yang menarik untuk dibahas, tapi Insya Allah gw bakal share semuanya di blog ini.

Demikian dan hatur nuhuuunn

-NIA-